Dialog Kebangsaan Dengan Tema “Jihad Melawan Terorisme” | BIDIK Tangsel
Home / Tangerang Selatan / Ciputat Timur / Dialog Kebangsaan Dengan Tema “Jihad Melawan Terorisme”

Dialog Kebangsaan Dengan Tema “Jihad Melawan Terorisme”

Iklan Ucapan

Ciputat Timur – Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar acara Dialog Kebangsaan pada hari Kamis (25/2-2016) di Aula Madya Kampus UIN Jakarta jalan Ir. H. Djuanda, Cempaka Putih Kec. Ciputat Timur. Acara yang dimulai pukul 13.55 WIB dan berakhir pukul 17.00 WIB tersebut menghadirkan beberapa narasumber.

Acara Dialog Kebangsaan dengan tema “Jihad Melawan Terorisme” yang di dihadiri oleh Kapolres Tangsel, AKBP. Ayi Supardan,S.sos.SIK, M.Si, Dir. Eksekutif Pusat Studi Nusantara, Sarif Hidayatullah, Presiden Dewan Eksekutif Usuludin, Suki Hidayatulah, Kesbangpol Kota Tangsel, Hasim, Pengamat UU Terorisme, Abdul Kharim Muthe, lc. SH, MH, Pengamat Media, M. Khoirul Huda lc, s, th, i , Pengamat Gerakan Jihad di Indonesia, Ustd, Sofyan Tsauri dan para mahasiswa yang dihadiri sekitar 75 peserta.

Sebelum acara di mulai dengan membaca basmallah dan Pembacaan ayat suci Al- Qur’an oleh mahasiswa UIN, Irfan Maulana serta menyayikan lagu Indonesia Raya oleh Lutfiana.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Sahroni mengatakan acara yang berlangsung ini adalah hasil diskusi teman-teman mahasiswa, dari itu kita telah melaksanakan  solidaritas gerakan jihad pemberantasan aksi terorisme, berawal dari pengeboman di berbagai wilayah negara dan di negara kita sendiri di Sarinah.

“Kita selaku mahasiswa tidak hanya mahasiswa akademisi melainkan melalui idealis sosialisme dari intra kampus sendiri untuk negara indonesia masalah terorisme, agar kampus UIN aman dari serangan dan doktrinan para terorisme,” ujarnya saat memberikan sambutannya.

Nara sumber pertama di Acara Dialog Kebangsaan tersebut, Presiden Dewan Eksekutif Usuludin, Suki Hidayatulah mengatakan “Saya sangat mengapresiasi dialog kebangsaan ini,” katanya.

Jihad pemberantasan terorisme, kasus terorisme bukanlah hal sepele melainkan masalah Internasional bahwasanya mahasiswa Usuludin, kami siap untuk mempelopori aksi jihad terhadap terorisme dan radikalisme, khususnya di Kota Tangsel.

“Saya sangat mengapresiasi dialog kebangsaan ini, jihad pemberantasan terorisme, kasus terorisme bukanlah hal sepele melainkan masalah internasional bahwasanya kita dari mahasiswa usuludin siap untuk mempelopori aksi jihad terhadap terorisme dan radikalisme, khususnya Kota Tangsel kita siap menjadi pelopor dan siap melawan terorisme.

Islam bukan agama untuk pelaku terorisme, Islam merupakan agama rahmatanlilalamin, ketika manusia melakukan perbedaan-perbedaan itu termasuk teror, idiologi Pancasila merupakan berawalnya persatuan bangsa ini walaupun begitu banyak perbedaan budaya dan agama  tetapi tetap satu NKRI, tambahnya.

Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tangsel, Hasim yang menjadi narasumber berikutnya dalam Dialog Kebangsaan, juga memberikan apresiasi dan mendukung kegiatan ini, apalagi masalah di Kota Tangsel yang stigmanya dua masalah yaitu narkoba dan terorisme semoga stigma ini bisa  di hapus oleh masyarakat.

Terhadap kelompok radikalisme ini,  pemerintah dengan kwalitas / kekuatan yang terbatas harus berkordinasi dengan stakeholder wilayah dan  mahasiswa sangat membantu untuk menghapus paham-paham terorisme di wilayah Kota Tangsel.

Kolaborasi pemerintah dengan mahasiswa cukup berpengaruh karena mahasiswa merupakan benteng agar paham-paham terorisme tidak masuk ke jiwa generasi pemuda, dan  agar dapat  mempertahankan ideologi pancasila yang selalu  kita pegang dan kita jaga.

“Kami berpesan agar semangat ini di jaga dan dipertahankan, karena idiologi kita cukup satu Pancasila dan jangan sampai ideologi asing masuk jiwa pemuda apalagi jiwa mahasiswa, suatu catatan buat kita untuk mempertahankan ideologi kita untuk melawan terorisme,” ujarnya.

Sementara itu keynote speech, Kapolres Kota Tangsel, AKBP. Ayi Supardan,S.sos.SIK, M.Si mengatakan terkait dengan isu yang sekarang, ada konsep jihad melawan terosisme, untuk menganalisis di Kota Tangsel ini

Walaupun kota yang sangat besar dan batasnya belum terlihat, tetapi saya bangga kepada Kota Tangsel dengan pontensi-potensi nya yang harus kita jaga dan potensi semua aliran yang banyak di Tangsel ini.

“Saya menjaga agar tidak berkonflik, saya melihat teroris itu mereka adalah kelompok yg kurang cerdas melalui internet, dan kelompok kasar  dengan pemikiran kekerasan, saya berfikir gimana caranya supaya kelompok ini menjadi lembut menjadi cerdas agar idiologi terorisme yg mereka pelajari hilang dengan sendirinya

Lebih lanjut Kapolres mengatakan kelompok teroris saat ini mengalami kegelisaan, tapi  kita harus optimis karena tantangan kehidupan kita semakin sulit, tetapi semoga untuk ancaman kejahatan semakin sedikit, terosrisme hanya  salah  satu saja, tetapi untuk  masalah yg lain masih banyak, untuk masalah terorisme para ulama  agar belajar lebih tahu ideologi NKRI kita ini bagaimana terbentuknya dan potensi NKRI ini begitu besar, ada kelompok toleran dan intoleran kelompok toleran yang bisa mengerti perkembangan ideologi NKRI,  tetapi  kelompok intoleran itu bisa merupakan kelompok yg kurang mengetahui ideologi indonesia sehingga terjadi konflik perbedaan kelompok,

“Jihad pemberantasan terorisme yang masuk di Indonesia cukup membantu dan teroris yang masuk sekarang ini di Indonesia merupakan  kelompok ISIS, terkait data di Tangsel baru 3 orang yang sudah tertangkap jaringan teroris, polisi tidak bisa menangkap seseorang apa bila kurang alat bukti  walapun polisi itu yakin bahwa seseorang tersebut melakukan kejahatan tetapi polisi perlu bukti kuat untuk menangkap dan sesuai hukum pidana, saran saya kita harus yakin kepada ideologi kita Pancasila karena Ideologi kita sudah benar. Perbedaan agama bukanlah alasan untuk membeda bedakan suatu kesatuan,” ungkap AKBP. Ayi Supardan.

Menurut Pengamat Undang-undang Terorisme, Abdul Kharim Muthe, lc. SH, MH dalam acara Dialog Kebangsaan di UIN Syarif Hidayatullah mengatakan bahwa UUD 1945 menyatakan bahwa indonesia berdasarkan hukum dan memiliki tugas dan kewenangan untuk menyelenggarakan kehidupan yg aman dan UU No 15/2003, ini di bentuk karena aksi terorisme merupakan salah satu penghambat terwujudnya kehidupan yg aman,  damai dan sejahtera.

Dalam UU no 15 / 2003 tidak berjalan efektif untuk pemberantasan  terorisme karena di lihat dari efektifitas hukum terdapat 3 aspek yaitu aspek subtansi, struktur hukum dan budaya hukum, dalam aspek ini yg terjadi permasalahan yaitu aspek subtansi hukumnya karna uu tidak memberikan kewenangan kepada Polri untuk melakukan penangkapan kepada pihak yg diduga ingin melakukan aksi teror berdasarkan dari laporan yg di sampaikan oleh BIN dan juga UU No 15 /2003 bersifat reaktif artinya penegakan hukum baru dapat dilakukan apabila telah terjadi perbuatan yg menimbulkan  akibat dari korban dan masyarakat dan UU No 15 / 2003 pasal 26 mengatur bahwa tidak pidana terorisme harus memiliki dua alat bukti permulaan yg cukup yg bisa di tetapkan oleh wakil dan ketua pengadilan negeri didahului oleh pemeriksaan selama 3 hari dan butuh waktu yg cukup lama untuk proses hukum pidananya.

Dari acara Dialog Kebangsaan yang di selenggarakan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah  di Ciputat menghadirkan pengamat media, M. Khoirul Huda lc, s, th, i , berpendapat, “Kami sangat mendukung acara jihad  pemberantasan terorisme agar terorisme segera terhapus di negara NKRI, kami dari pihak pengamat media selalu menggali informasi tentang terorisme dan siap memberikan informasi dan berkordinasi dengan jajaran pemerintah, ujarnya

Sementara itu Pengamat Gerakan Jihad di Indonesia, Ustd, Sofyan Tsauri, berpendapat kita harus mendalami ilmu keagamaan dan mendalami al- quran. Kejadian ISIS merupakan berawal kejadian pedagang kaki lima yang daganganya di sita  oleh Sat Pol PP sehingga pedagang kaki lima melakukan pembakaran diri, sehingga gerakan mereka membenci anggota pemerintahan.

Ustd. Sofyan berpesan berhati-hati mengeluarkan statement agar kelompok-kelompok yang seperti dulu, terorisme tidak masuk kedalam masyarakat Indonesia dan menjaga kestabilitas keamanan sangatlah penting. Bagi kita semua agar tidak minim kelompok radikalisme pendoktrian melalui  alquran untuk mereka orang kafir,  tetapi mereka ambil untuk orang indonesia yang sudah masuk islam yang mereka anggap Islam di Indonesia adalah Kafir

Akhir nya acara Dialog Kebangsaan yang bertemakan Jihad Melawan Terorisme tersebut berakhir pukul 17.00 WIB.

Iklan Ucapan

About Redaksi

Check Also

Launching FJTangsel 2017, Spirit Smart Dan Modern Jurnalism

Tangsel – Perhelatan Akbar Festival Jurnalistik Tangsel (FTJ) 2017 resmi dilaunching, di Resto Bupe, Serpong, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menyambut Bukan Ramadhan