Membaca Pola Asuh Generasi Digital | BIDIK Tangsel
Home / News Tangsel / Membaca Pola Asuh Generasi Digital
Iklan Ucapan

Membaca Pola Asuh Generasi Digital

#Opini #SuaraWarga, Tangsel – Perkembangan teknologi sekarang ini, penggunaan perangkat digital bagi kehidupan anak telah berpengaruh terhadap kehidupan anak. Pengawasan terhadap anak sangat penting untuk diwujudkan karena banyak informasi yang masuk dan anak harus bisa memilih informasi yang cocok dan sesuai tahap perkembangannya.

Dalam proses pendidikan era digital peran orang tua harus mencermati cara-cara mengetahui kemampuan anak untuk menyikapi dan memandang dirinya secara positif agar menggunakan perangkat digital dengan baik. Oleh karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama pada anak (herimanto dan Winarno: 2012).

Hal ini disebabkan, karena kedua orang tuanyalah yang pertama dikenal dan diterimanya pendidikan. Bimbingan, perhatian, dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak (Nur Ahdi: 2010).

Sesuai yang telah ditegaskan oleh Allah swt., dalam QS. Al-Tahrim/66:6. Bila ditelaah secara mendalam ayat di atas memberikan maksud apabila tanggung jawab terletak di tangan kedua orang tua serta tidak dapat dipikulkan kepada orang lain dan merupakan pendidik awal bagi anak.

Dalam pendidikan keluarga yang harus memperhatikan, saat menggunakan perangkat digital. Perangkat-perangkat digital itu, antara lain TV, komputer, ponsel cerdas, komputer tablet dan lain-lain. karena dapat mengakibatkan dampak yang buruk dan baik bagi anak. Melihat dari perkembangan era digital yang semakin berkembang di dunia saat ini yang tentunya berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak sehingga keluarga merupakan benteng utama dalam melakukan pendidikan yang baik dari efek buruk yang ditimbulkan dari perkembangan era digital tersebut.

Orang tua juga tidak boleh menutup rapat-rapat dari perkembangan era digital bagi anak dikarenakan dibalik perkembangan era digital tersebut ada banyak hal positif yang dapat diraih, pada titik inilah peran orang tua dalam mendidik anak dalam era digital sangat dibutuhkan guna memilah hal positif dan negatif dari perkembangan teknologi tersebut. Berdasarkan perkembangan teknologi yang ada saat ini, menjadikan kendala terberat bagi orang tua dalam mendidik anakanaknya.

Pola Asuh Orangtua dalam Keluarga

Pola asuh dapat didefenisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan dengan orang tua yang meliputi meliputi pemenuhan kebutuhan fisik ( seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lainlain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya.

Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola intraksi orang tua dengan anak dalam rangka penddidikan anak. Secara umum pola asuh anak terbagi dalam tiga kategori, yaitu: 1. Pola asuh otoriter. 2. Pola asuh demokrsi, dan 3. Pola asuh permisif (Elizabeth B. Hurloc: 2000).

Pola asuh otoriter mempuyai ciri orang tua memebuat semua keputusan, anak harus tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya. Pola asuh demokrasi mempunyai ciri orang tua mendorong utuk membicarakan apa yang anak inginkan.

Sementara pola asuh anak permisif mempunyai ciri orang tua memberikan kebebasan penuh kepada anak untuk berbuat.

Dapat di ketahi bahwa pola asuh anak yang diterpkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh trsebut yaitu sebagai berikut: Pola asuh otoriter mempunyai ciri, yaitu: a. Kekuasaan orang tua dominan. b. Anak tidak diakui sebagai pribadi. c. Control terhadap tingkalaku anak sangat ketat. d. Orang tua menghukum anak jika tidak patuh.

Pola asuh domokrasi mempunyai cici-ciri, yaitu: a. Ada kerja sama antara orang tua dan anak. b. Anak diakui sebagai pribadi. c. Ada bimbingan dan pengarahan dari orang tua. d. Ada kontrol dari orang tua yang tidak kaku.

Selanjutnya pola asuh permisif mempunyai ciri-ciri, yaitu: a. Dominasi pada anak. b. Sikap longgar atau kebebasan dari orang tua. c. Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orang tua. d. Kontrol dan perhatian orang tua sangat kurang. Melalu pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, anak akan belajar belajar tentang banyak hal, termasuk kepribadian.

Tentu saja pola asuh otoriter cenderung menutut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua dan pola asuh permisif yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat, sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis yang cenderung memdorong anak untuk terbuka, namun bertanggung jawab dan mandiri.

Artinya, jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhaslan pendidikan anak olah keluarga. Pola asuh otoriter cenderung memebatasi perilaku kasih sayang, sentuhan,dan kelekatan emosi orang tua anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memeiliki dinding pembatas yang memisahkan si otoriter (orang tua) dengan si patuh ( anak ) Pola asuh permisif yang cenderung memberikan kebebasan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan kepribadian.

Biar pun di berikan kebebasan anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang buruk. Dengan memberikan kebebasan yang berlebihan, apalagi terkesan memberikn, akan memebuat anak bingung dan berpotensi salah arah. Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan anak.

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orang tua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggung jawab.

Sementara itu, orang tua yang otoriter merugikan, kerena anak tidak mandiri, kurang tanggung jawab serta agresif, sedangkan orang tua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu menyesuaikan diri di luar rumah.

Menurut Arkoff anak yang didik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja.

Di sisi lain, anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakan-tindakan merugikan. Sementara itu, anak yang dididik secara permisif cenderung mengembangkan tingk laku agresif secara terbuka atau terang-terangan.

Menurut Middlebrook hukum fisik yang umum diterapkan dalam dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingka laku anak karena: a) menyebabkan marah dan frustasi, (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif, (c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya, misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orang tetapi segera melakukan setelah orang tua tidak ada, (d) tingkah laku agresif orang tua menjadi model bagi anak.

Hasil penelitian Rohner menunjkkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkambagan kepribadiannya (karekter atau kecerdasan emosinya).

Penelitan tersebut menunjukkan bahwa pola asuh orang tua, baik yang menerima atapun yang menolak anaknya, akan mempengaruhi perkembangan emosi, perilaku, sosial-kognitif, dan kesehat dan fungsi psikologisnya ketika dewasa. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang dibarikan kasih sayang, baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayangkata-kata membesrkan kata hati,dorongan, dan pujian), ataupun secara fisik ( diberikan ciuman, elusan, di kepala, pelukan, dan kontak mata yang mesrah).

Hasil penelitian Rehner menjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima dan membuat anak merasa di sayang, dilindungi, dianggap barharga, dan diberi dukungan dari orang tuanya. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung membentuk kepribadian yang pro-sosial, percaya diri, dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya.

Sementara itu, pola asuh yang menolak dapat membuat merasa tidak diterima, tidak disayang, dikecilkan, bahkan dibenci oleh orang tuanya. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri. Keluarga sebagai sebuah lembaga pendidikan yang pertama dan utama.

Keluarga diharapkan senantiasa berusaha menyediakan kebutuhan, baik biologis maupun psikologis bagi anak, serta merawat dan mendidiknya. Keluarga diharapkan mampu menghasilkan anak-anak yang dapat tumbuh menjadi pribadi, serta mampu hidup di tengah-tengah masyarakat.

Sekaligus dapat menerima dan mewarisi nilai-nilai kehidupan dan kebudayaan.
Dalam keluarga, anak dipersiapkan untuk menjalani tingkatan-tingkatan perkembangannya sebagai bekal ketika memasuki dunia orang dewasa, bahasa, adat istiadat dan seluruh isi kebudayaan, seharusnya menjadi tugas yang dikerjakan keluarga dan masyarakat di dalam mempertahankan kehidupan oleh keluarga.

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama di mana individu berada dan akan mempelajari banyak hal penting dan mendasar melalui pola asuh dan binaan orangtua atau anggota keluarga lainnya. Keluarga mempunyai peran penting bagi pertumbuhan jiwa anak agar seorang anak tersebut dapat sukses di dunia dan di akhirat.

Namun disisi lain, keluarga juga bisa menjadi killing field (ladang pembunuh) bagi perkembangan jiwa anak jika orangtua salah mengasuhnya. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan maka ia akan tumbuh menjadi orang yang baik. Tetapi apabila ia dibiasakan melakukan hal-hal yang jelek niscaya dia akan menjadi seorang yang celaka.

Oleh karena itu harus ada pola asuh yang baik yang diberikan orang tua untuk membimbing anak ke jalan yang benar agar anak sukses di dunia dan akhirat. Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian atau tanggapan terhadap keinginan anak.

Dengan demikian yang disebut dengan pola asuh orang tua adalah cara orang tua mendidik anak.

Anak-anak dan Konsumsi Internet

Memasuki abad informasi, kita menyaksikan bagaimana media memiliki kekuatan dominan dalam memengaruhi setiap dimensi kehidupan manusia. Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, media di era maya seakan muncul kembali ke dalam sistem komunikasi purbakala dan memosisikan penerima (komunikan) sebagai pihak aktif.

Massifikasi komunikasi seakan akan bercampur baur dengan demassifikasi. Internet (website) atau media online adalah komunikasi interaktif sekaligus komunikasi massa. Kemajuan media informasi dan tekhnologi sudah dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, baik dari segi positif maupun negatif dari penggunaanya.

Hal ini dikarenakan pengaksesan media informasi dan tekhnologi ini tergolong sangat mudah atau terjangkau untuk berbagai kalangan, baik untuk para kaula muda maupun tua dan kalangan kaya maupun menengah ke bawah. Bahkan pada umumya, saat ini anak – anak usia 5 hingga 12 tahun yang mnjadi pengguna paling banyak dalam memanfaatkan kemajuan media informasi dan tekhnologi pada saat ini.

Pada masa ini pula anak mudah sekali menerima pengaruh dari lingkungan sekitarnya, terutama pada orang-orang terdekatnya. Ini merupakan masa paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun pertama dalam kehidupanma sebelum masuk sekolah. Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat berbekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah dalam ingatannya (Elizabeth B. Hurloc: 2000).

Saat ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, anak-anak lebih banyak bermain dengan permainan berteknologi tinggi, seperti komputer, play station. Derasnya arus teknologi komputer “disadari atau tidak” telah membentuk sebuah generasi yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.

Kini anak-anak lebih terbiasa dengan komputer. Permainan semacam furby, game-boy, play station, sega-dreamcast atau nintendo 64 langsung menyerbu kamar anak-anak.

Bahkan telepon selular dan komputer pribadi bukan lagi barang aneh bagi anak sekarang. Sebuah game komputer mini sudah mampu memaninkan program permainan digital dengan kualitas cukup baik.

Bahkan generasi terbaru game-boyi dilengkapi monitor berwarna, untuk memainkan program digital yang dikemas dalam disket kecil tahan banting. Bagi generasi orang tua, permainan semacam furby atau game boy, mungkin merupakan sesuatu yang absurd. Tidak demikian bagi anak-anaknya.

Mereka seolah tidak bisa lepas dari sihir baru bernama teknologi komputer tersebut. Saat ini, agaknya anak-anak lebih berpikir logis dan digital ketimbang orang tuanya.

Begitu kira-kira istilah yang dilontarkan para pakar komputer. Di dunia maya, anak-anak atau kita sendiri sengaja maupun tidak, bisa menemukaan materi-materi informasi yang tidak layak.

Aspek pornografi merupakan satu sisi gelap dari beragam kelebihan yang ditawarkan oleh internet. Banyak orang tua resah dengan penetrasi informasi seksual yang vulgar dari sejumlah situs web.

Bahkan internet, bagi sebagain orang, telah dicap buruk dan menyesatan. Tidak sedikit keluarga mengkhawatirkan adanya fasilitas internet di rumah bisa menjadi referensi menarik tentang pornografi bagi anak-anak yang masih belia.

Peran Orang tua

Upaya-upaya untuk mengantisipasi serbuan situs pornografi telah banyak dilakukan .Berbagai internet software ini sedikit banyak bisa mengurangi efek penetrasi pornografi yang ditimbulkan oleh internet. Sebut saja Solid Oak Softwarei, dengan produk andalannya Cybersitter.

Software ini bekerja melalui tiga tahap; mengunci akses ke URL (Uniform Resource Locator) tertentu (Web, FTP Sites, dan Unsenet News Gruop)` yang kedua adalah dengan meyensor key words tertentu, dan yang terakhir berfungsi sebagai penyensor file-file tertentu. Disamping cybersitter, software lainnya yang cukup populer adalah Net Nanny dan Surf Watch.

Kedua software ini, disamping memiliki keunggulan seperti yang dimiliki oleh cybersitter, juga memiliki kemampuan untuk menyensor IRC chat rooms, Gopher, dan E-mail. Sekalipun banyak kelemahan yang tedapat pada berbagai software tersebut, akan tetapi paling tidak orang tua bisa sedikit bernafas lega dan tidak berprasangka buruk terhadap teknologi internet.

Memang, sangat tidak mungkin untuk menyensor jaringan internet sebab dia adlah sebuah jaringan global tanpa batas wilayah geografis. Sebenarnya, kecanggihan teknologi komputer berbasis internet ini juga banyak mendatangkan manfaat bagi keluarga.

Apalagi jika diperkenalkan sejak usia dini. Oleh karena itu, peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi anaknya ketika menggunakan internet. Orang tua harus mempertimbangkan untuk memperhatikan batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi.

Untuk mempermudah hal tersebut, maka orang tua bisa menyarankan kepada anaknya untuk menjadikan sebuah ditektori atau search engine (mesin pencari) khusus anak-anak, sebagai situs yang wajib dibuka saat pertama kali terhubung dengan internet. Selain itu, tempatkan komputer di ruang yang mudah diawasi.

Dengan begitu, sang anak bebas melakukan eksplorasi di internet, tetapi, dia tidak sendirian. Pertingan pula untuk menggunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak-anak.

Orang tua juga perlu membatasi waktu penggunaan internet. Pastikan bahwa waktu yang digunakan untuk menggunakan internet tidak menyerap waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas lainnya.

Berikanlah pra-syarat tertentu untuk menggunakan internet. Misalnya, anak-anak baru boleh menggunakan internet jika telah menegrjakan rumah atau tugas sekolah. Tidak ada salahnya pula menetapkan jam berapa anakanak boleh menggunakan internet dan memberikan batasan jumlah waktu.

Kalau perlu, gunakan software yang dapat membatasi waktu online mereka. Orang tua juga perlu memperkenalkan kepada anak-anak, situs education-entertaiment (edutainment) atau search engine khusus anak-anak.

Yang penting untuk diingat, jika kita memiliki situs pribadi atau keluarga, jangan memasang foto diri maupun foto anggota keluarga yang lain, khususnya anak-anak. Jangan sertakan pula informasi tentang alamat rumah, alamat sekolah, nomor telepon atau data pribadi lainnya. Ini dimaksudkan untuk melindungi privasi si anak maupun keluarga pada umumnya (A. Eddy Adriansyah: 2015).

Seiring perkembangan zaman, pemikiran orang tua pada saat ini pun sudah mengalami perbedaan yang tergolong jauh dengan pemikiran orang tua pada zaman terdahulu. Kemudian akses dalam mendapatkan gadget seperti tablet yang ada di era globalisasi saat ini, membuat para orang tua modern tidak perlu lagi membelikan beraneka ragam mainan untuk anaknya. Cukup membelikan satu buah tablet, dimana pada saat ini harganya semakin tergolong terjangkau oleh masyarakat luas.

Segala macam permainan sudah bisa didapatkan secara mudah jika dibandingkan masa lalu yang penuh dengan permainan tradisional. Keadaan seperti ini membuat anak semakin dimanjakan dengan segala kecanggihan gadget tersebut, dimana sekali klik dapat mengakses beraneka ragam permainan dan informasi yang teraktual pada saat ini.

Dengan demikian, sosialisasi anak tersebut dapat dikatakan kurang atau tidak optimal dengan teman – teman sebayanya dan juga kurang melakukan aktivitas fisik yang baik untuk perkembangan mental maupun jasmani anak tersebut. Ketika diperumpamakan seperti dua sisi uang logam, gadget ini memiliki dampak positif dan juga dampak negatif untuk perkembangan anak.

Dampak positif dari penggunaan media informasi dan tekhnologi ini adalah antara lain untuk memudahkan seorang anak dalam mengasah kreativitas dan kecerdasan anak. Adanya beragam aplikasi digital seperti mewarnai, belajar membaca, dan menulis huruf tentunya memberikan dampak positif bagai perkembangan otak anak.

Mereka tidak memerlukan waktu dan tenaga yang lebih untuk belajar membaca dan menulis di buku atau kertas, cukup menggunakan tablet sebagai sarana belajar yang tergolong lebih menyenangkan.

Dari berbagai pandangan tersebut orang tua dapat melaksanakan perannya mendidik anak di era digital dengan cara menerapkan pola asuh yang tidak otoriter karena anak tidak senang dipaksa melainkan dibujuk dan cenderung dibiarkan namun juga harus tetap diawasi oleh orang tua. Selain itu orang tua juga harus mampu memahami ragam aplikasi yang mendidik anak dan memandu anak untuk memainkannya dengan baik serta mengawasi penggunaan media informasi tersebut agar tidak menyimpan dari nilai-nilai pendidikan Islam. (*)

 

Penulis :ASEP ABDURRAHAN

Dosen FAI UMT dan Pengajar SMP Daarul Qur’an Internasional

Iklan Ucapan

About Redaksi

Check Also

DPC Partai Garuda Kota Tangsel Mendaftar Ke KPU Tangsel

Serpong – Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) mendaftarkan diri sebagai peserta Pemilihan Umum 2019 di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *