OPINI: Donald Trump dan Prospek Kerjasama dengan Indonesia | BIDIK Tangsel
Home / Sosok / OPINI: Donald Trump dan Prospek Kerjasama dengan Indonesia
Iklan Ucapan

OPINI: Donald Trump dan Prospek Kerjasama dengan Indonesia

#SuaraWarga #Opini, Tangsel – Donald Trump telah disumpah sebagai presiden Amerika Serikat ke-45 pada Jumat, 20 Januari 2017 yang lalu di Washington DC.

Pelantikan tersebut dihadiri oleh Ketua Hakim Agung John Roberts, Presiden Jimmy Carter, Bill Clinton, George W. Bush, Barrack Obama, warga Amerika Serikat, dan perwakilan publik dari seluruh dunia.

Meskipun bila dibandingkan dengan saat pelantikan Presiden Obama, yang mendapat dukungan luas rakyat Amerika Serikat, pelantikan Presiden Trump dihadiri lebih sedikit rakyat Amerika dan masih diliputi banyak kontroversi dan kesangsian warga Amerika sendiri.

Apakah Trump akan dipecat setelah satu tahun pemerintahannya ataukah dia mampu melewati masa sulit dan akan dipilh kembali saat pemilu Amerika Serikat empat tahun mendatang.

Di pelantikan itu Trump diantaranya berujar mengajak warga Amerika untuk bergabung dalam sebuah upaya nasional yang besar untuk membangun kembali negaranya dan memulihkan kembali janji-janji yang pernah terucap kepada seluruh rakyat Amerika.

Masa-masa Sulit

Pada saat ini Amerika sedang mengalami keterpurukan ekonomi. Jumlah pengangguran meningkat. Industri dan pabrik-pabrik banyak yang tutup.

Tingginya biaya pendidikan sehingga banyak anak muda yang tidak bisa melanjutkan kuliah.

Di Amerika, inovasi teknologi secara agregat memang masih nomor wahid di dunia, namun itu hanya pada kategori teknologi tinggi (hi-tech) sedangkan pada inovasi produk teknologi rendah (low tech) Amerika masih kalah bersaing dengan China dan negara-negara lainnya terutama di Asia yang memang terkenal dengah rendahnya upah tenaga kerja.

Sehingga competitiveness advantage kalah dibanding negara-negara Asia termasuk Indonesia, Taiwan dan Vietnam.

Oleh karenanya produk-produk dari negara Amerika latin seperti Mexico dan negara Asia seperti China membanjiri pasar negara tersebut. Misalnya pada produk-produk garmen dan makanan olahan. Komoditi jenis ikan laut dan kepiting masih dapat diimpor dari Indonesia.

Ke depan musti dipikirkan peningkatan jenis produk lain dan dikuasainya teknologi sterilisasi agar produk makanan dapat diproses dengan cepat sehingga meningkatkan efisiensi produksi.

Prediksi ke depan

Karakteristik Amerika adalah ingin menjadi negara terkuat dan menjadi polisi dunia. Oleh karena itu secara politis Amerika ingin mengalahkan semua negara yang menjadi pesaingnya.

Pasca selesainya perang dingin (cold war) antara Amerika dengan Uni Sovyet, secara ideologi musuh Amerika yang berideologi kapitalisme menurut Michael Huttington adalah Islam.

Namun secara ekonomi ternyata China tumbuh menjadi pesaing baru dalam hal ekonomi. Banjirnya produk China di Amerika telah melumpuhkan industri kecil dan menengah di sana.

Pendapatan per kapita rakyat Amerika masih empat kali lebih tinggi dibandingkan China namun karena China penduduknya sangat besar maka maka ini mengkhawatirkan pemerintah Amerika karena kalau dikumpulkan secara menyeluruh (agregat) maka tentunya akan berjumlah sangat besar.
Populasi China lebih dari empat kali populasi Amerika.

Pendapatan per kapita GDP China USD 7.572 sedangkan Amerika USD 54.678. Amerika masuk nomor 9 negara terkaya di dunia.

Pada masa kampanye pemilihan presiden Trump berujar “Campaigning is one thing, governance is another”.

Kampanye adalah satu hal, pemerintahan adalah hal lain. Ini merupakan retorika politik kalau janji-janji kampanye bisa saja tidak dapat dipenuhi oleh Trump dengan alasan tertentu.

Salah satu alasan yang sangat bisa dipakai adalah alasan demi keamanan Amerika.

Presiden Trump ingin memproteksi industri dalam negeri agar industrinya dapat tumbuh. Terutama industri kecil dan menengah dengan menarik sebanyak mungkin investor baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Dana-dana Amerika di luar negeri akan dirangsang untuk kembali masuk ke dalam negeri mereka dengan memberikan suku bunga tinggi.

Namun pada saat ini China termasuk negara yang berinvestasi sangat besar di Amerika. Ancaman Trump yang akan memproteksi negaranya dari produk asing seperti China tentunya akan sangat sulit.

Bisa saja China mengancam akan menarik semua dana investasinya di Amerika sehingga industrinya akan terancam lumpuh. Tentunya ini akan menjadi dilema pengambilan keputusan Presiden Trump ke depan.

Sejarah partai Republican, partai dimana Trump berasal yang sangat pro dengan para pebisnis, biasanya menerapkan pajak rendah sehingga diharapkan industry dapat tumbuh yang hasilnya akan dapat mengangkat ekonomi masyarakat.

Democrat, di sisi lain biasanya menerapkan pajak tinggi ke para pengusaha dan industri. Hasil dari pajak ini dikembalikan ke masyarakat dengan membuat program-program yang popular seperti Obama Care dalam bidang kesehatan dan bantuan langsung tunai.

Bantuan langsung tunai ini sering mendapat kecaman dari partai Republican karena dianggap hanya buang-buang uang saja.

Uang yang diberikan cuma-cuma kepada orang miskin hanya akan membuat mereka semakin malas dan hanya hidup mengandalkan uang tersebut.

Ancaman dan Peluang Bagi Indonesia

Presiden Trump mengatakan dia akan kembali menguatkan aliansi lama dan membentuk aliansi baru dan menyatukan dunia untuk melawan teroris radikal. Ini dimaknai oleh para pengamat bahwa Amerika akan membangun aliansi dengan Rusia untuk melawan hegemoni China.

Kedekatan politik pemerintah Indonesia dengan China akhir-akhir ini juga harus hati-hati karena bagaimanapun kekuatan militer Amerika dan aliansinya masih dipandang sebagai super power dunia. Ketegangan di Laut China Selatan yang melibatkan berbagai negara dapat memicu ketegangan-ketegangan baru yang dapat merugikan keamanan dan ekonomi Indonesia.

Untuk mengantisipasi perubahan peta politik dunia pasca terpilihnya Trump, Indonesia perlu mengencangkan ikat pinggang dengan tidak lagi melakukan pola-pola berhutang namun uangnya tidak dialokasikan ke program-program yang produktif yang dapat mengungkit kemampuan teknologi dan inovasi dan industri bangsa.

Reformasi birokrasi masih sebatas wacana dan belum dilakukan dengan serius. Sehingga potensi bocornya dana hutang luar negeri atau program yang tidak tepat sasaran akan semakin tinggi.

Sebagai contoh, pemerintah memberikan bantuan sapi atau kambing kepada masyarakat dari dana hutang, namun apabila masyarakat tidak tahu kalau itu dana hutang dan memandang bahwa itu bantuan pemerintah cuma-cuma maka tidak akan mendapatkan nilai tambah dari adanya batuan itu.

Atau pemerintah memberikan bantuan sapi atau kambing padahal dia tidak mau beternak. Akibatnya bantuan itu tidak akan efektif.

Oleh karenanya, Indonesia perlu meningkatkan kualitas produk melalui inovasi dan peningkatan kuaitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan. Selain itu peran pemerintah adalah medorong tersedianya peralatan dan fasilitas yang ada di Industri misalnya Indonesia baru mempunyai alat sterilisasi Irradiasi gamma dan itupun masih milik pemerintah.

Dibandingkan dengan Vietnam yang saat ini sudah mempunyai Irradiasi Gamma 11 unit. Sehingga meningkatkan efisiensi produk Vietnam yang akhirnya dapat memangkas ongkos produksi dan menurunkan harga jual.

Karena apabila Amerika dengan Presiden Trump mengejar ketertinggalan industri low- tech mereka sementara kita masih memproduksi produk-produk yang sama kualitasnya dengan sekarang maka besar kemungkinan ekspor produk dari Indonesia akan ditolak oleh Amerika di masa mendatang.

Parag Khana, seorang profesor dari National University of Singapore, Lee Kwan Yew School of Public Policy dalam bukunya Connectography: Future Global Civilization memprediksi masa depan peradaban dunia. Connectography merupakan gabungan dari connectivity dan geography.

Parag mengatakan bahwa dengan semakin berkembangnya konektivitas infrastruktur jalan dunia dari Timur ke Barat dan dari Barat ke Timur dan semakin berkembangnya teknologi digital yang memungkinkan orang dapat terhubung secara real time, maka orang akan semakin terhubung satu sama lain. Teknologi seperti Facebook, Twitter, dan Instagram telah membuat dunia seperti kampung yang dapat dengan mudah orang dapat berkomunikasi.

Pemerintah Indonesia saja misalnya masih kesulitan mendapatkan pajak dari Facebook dan Google. Karena hanya perusahaan itu tidak berlokasi di Indonesia.

Konektivitas dapat dilakukan dengan mengoperasikan perusahaan dari negara lain. Sehingga dapat menghindari pengeluaran pembayaran pajak.
Di era konektivitas ini, peran negara akan semakin mengecil dalam menentukan kemenangan suatu kelompok masyarakat.

Yang akan memenangkan pertarungan politik, ekonomi, budaya dan pertahanan dan keamanan adalah mereka-mereka yang mempunyai jaringan konektivitas (keterhubungan satu sama lain dengan kuat dan secara geografi menguasai sumber daya alam dan energi untuk masa depan.

Untuk itu Indonesia perlu berbenah mulai sekarang pasca pelantikan Presiden Trump agar memenangkan persaingan global yang mengandalkan kekuatan aliansi jaringan konektivitas dan keunggulan geografi tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi untuk kepentingan yang lebih luas.

Jadi untuk memempertahankan bahkan meningkatkan ekspor ke Amerika, Indonesia harus melakukan pertama membenahi kualitas pendidikan agar menghasilkan sumberdaya manusia yang baik.

Kedua, perhatian pemerintah agar tumbuh UKM-UKM baru yang siap bersaing di tingkat global serta meningkatkan kualitas produk dan efisiensi UKM-UKM lama.

Ketiga, mendorong tumbuhnya inovasi teknologi agar tercipta produk-produk kreatif yang dapat menumbangkan produk pemain lama atau menciptakan pasar baru.
Terakhir, adanya kemudahan ease of doing business dan bantuan promosi untuk menembus pasar Amerika.
Sekarang terserah pemerintah dan rakyat Indonesia, mau melakukan hal tersebut di atas atau tidak. (*)

 

Penulis :

Aflakhur Ridlo, PhDA

Analis Kebijakan Ahli Madya BPPT,

Sekjen Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia

Iklan Ucapan

About Redaksi

Check Also

Bincang Buku, Bung Karno Dimata Generasi Millenia

Ciputat Timur – Kegiatan Bincang Buku Bung Karno “Menerjemahkan” Al Quran, dengan Tema: “Bung Karno …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menyambut Bukan Ramadhan