Aksi Nyata Bidang Persampahan sebagai Eko Wisata Di TPA Cipeucang | BIDIK Tangsel
Home / Advertorial / Aksi Nyata Bidang Persampahan sebagai Eko Wisata Di TPA Cipeucang
Iklan Ucapan

Aksi Nyata Bidang Persampahan sebagai Eko Wisata Di TPA Cipeucang

Setu – Siapa yang menyangka, di balik permasalahan sosial Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, di sekeliling bukit sampahnya itu, ada potensi eko wisata yang sangat luar biasa sekali. Ada bukit sampah, ada pemukiman pemulung, ada bantaran sungai dan Sungai Cisadane yang sangat cantik dan eksotik.

Menurut Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, H. Muqodas Syuhada mengatakan bukit sampah Cipeucang sudah overload, setelah zona 1 di tutup, zona 2 pun sudah mulai meninggi dikarenakan, beban TPA tersebut satu harinya sebesar 880 ton.

“Oleh karena itu untuk penanganan awal masalah bau yang menyebar di permukiman penduduk sekitar TPA adalah dengan cara menghijaukan bukit sampah tersebut dengan menanam bambu,” katanya.

Selain itu, Penanaman bambu tersebut, sekaligus sebagai uji coba penanganan masalah lingkungan secara cepat, ekonomis dan berkelanjutan. Ini akan dilakukan setiap hari jumat pagi.

“Selain itu, bukit sampahnya ditutup oleh daun-daun kering yang dikumpulkan dari berbagai tempat di Tangsel,” ujarnya.

Di sekitar TPA Cipeucang, terdapat pemukiman pemulung yang sangat tidak layak huni. Oleh karena itu, bersama dengan Asosiasi Profesi IAI Banten, pemukiman tersebut akan dirancang menjadi pemukiman yang layak huni dan berkelanjutan serta dijadikan tempat tinggal pemulung-pemulung yang diberdayakan sebagai pegiat eko wisata.

Menurutnya, di bantaran Kali Cisadanenya dibuat Hutan Kota dan Civic Center tempat warga beraktivitas, bersosialisasi dan berinteraksi secara aman dan nyaman. Kali Cisadanenya dijadikan sarana transportasi yang ramah lingkungan sebagai cikal bakal mewujudkan Tol Sungai dan Waterfront City di Kota Tangerang Selatan.

H. Muqodas Syuhada memaparkan untuk mewujudkan Eko Wisata Cipeucang, maka di tahun pertama, dilakukan mapping dan kajian potensi persampahan di Kota Tangsel, baik itu potensi permasalahan maupun potensi kondisi eksisting.

Setelah itu, diusulkan pembangunanya dengan sistem kontrak Multiyears selama tiga tahun yang dimulai di APBDP tahun 2017. Sehingga di tahun 2019 nanti, Kota Tangerang Selatan akan menutup total TPA Cipeucang dan memiliki Civic Center yang aman, nyaman dan berkelanjutan sesuai dengan Visi Misi Kota Tangsel 2016-2020.

Sebagai gantinya, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) sebanyak 51 yang sudah ada akan dioptimalkan sebagai pengelolaan sampah untuk kawasan kelurahan. Bank Sampah akan ditingkatkan. TPST dan Bank Sampah yang bagus akan diduplikasi ke TPST dan Bank Sampah yang tidak optimal.

“Nah, sisanya, masalah persampahan di Kota Tangsel ini akan dilelang ke pihak ketiga. Biarlah para pihak ketiga itu menjadi operator, sedangkan PemKot menjadi regulator saja,” ungkapnya.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

Untuk Alternatif keduanya, H. Muqodas Syuhada mengatakan, adalah menjadikan TPA Cipeucang sebagai PLTSa, sehingga listriknya bisa dijual ke PLN. Kriteria yang dibutuhkan untuk menghasilkan energi listrik 10 MW adalah adanya lahan seluas 15 ha – 20 ha dan minimal sampah 1500 ton/hari.

Menurutnya, jika melihat kondisi eksisting persampahan di Tangsel, sepertinya tidak mungkin. Karena saat ini, Tangsel sulit sekali memiliki lahan seluas itu, jika pun ada, pasti akan menjadi rebutan dengan pengembang perumahan.

“Tonase sampahnya pun demikian, hanya 880 ton/hari, jadi harus import sampah yang akan menimbulkan dampak sosial di transportasinya,” ujarnya

Meskipun demikian, alternatif kedua ini, masih bisa dilaksanakan bersama para investor dengan beberapa model :
Lahan TPA Cipeucang dibeli oleh Investor, sisanya membebaskan lahan-lahan yang ada di sekeliling TPA Cipeucang. Untuk kebutuhan sampahnya, sudah ada deposit sampah di Cipeucang.

Pada saat sampahnya habis, baru import dari wilayah sekeliling Tangsel. Untuk masalah transportasinya, bisa memanfaatkan jalur Sungai Cisadane.

“Membuat MoU dengan Kabupaten Tangerang. Lahan PLTSa nya di Kabupaten Tangerang, dan Tangsel mengekspor sampah,” paparnya.

Terkait, selama proses pembangunan PLTSa yang diperkirakan membutuhkan waktu 3-5 tahun, maka sebagai gantinya, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) sebanyak 51 yang sudah ada akan dioptimalkan sebagai pengelolaan sampah untuk kawasan kelurahan.

Bank Sampah akan ditingkatkan. TPST dan Bank Sampah yang bagus akan diduplikasi ke TPST dan Bank Sampah yang tidak optimal.

TPS (Tempat Pengelolaan Sampah) 3 R (Reduce, Recycel, Reuse)

Saat ini, di Kota TangSel ada 51 TPS 3R. Jadi, hampir setiap Kelurahan yang semuanya berjumlah 54 Kelurahan terdapat TPS 3R. Hanya sayang, TPS 3R yang sudah berjalan baru sekitar 3 TPS 3R. Oleh karena itu, TPS 3R yang merupakan salah satu aset bidang persampahan, akan dioptimalkan pengelolaannya.

Edukasi dan Sosialisasi akan rutin dijalankan oleh Dinas Lingkungan Hidup yang bekerja sama dengan swasta dan pegiat persampahan, sampai para Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang menangani TPS 3R tersebut bisa mengoperasionalkan dengan optimal.

Idealnya, jumlah 880 ton/hari sampah Kota Tangsel habis di masing-masing TPS 3R, jika tidak habis, maka sisanya akan dilelang ke pihak ketiga. (**)

About Redaksi

Check Also

Spesialis Rumsong Santroni Rumah di Rawabunga

Pondok Aren – Pencurian dengan modus menyatroni rumah yang tengah ditinggal penghuninya dalam waktu lama, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *