BELAJAR EGALITER TERHADAP SESAMA DARI TELADAN TERBAIK | BIDIK Tangsel
Home / News Tangsel / BELAJAR EGALITER TERHADAP SESAMA DARI TELADAN TERBAIK
Iklan Ucapan

BELAJAR EGALITER TERHADAP SESAMA DARI TELADAN TERBAIK

#Opini #SuaraWarga, Tangsel – Muhammad saw adalah manusia istimewa. Para sahabat pun mengistimewakan Nabi mengingat kedudukannya yang agung dan pribadinya yang mulia. Namun beliau tidak mengistimewakan dirinya di hadapan mereka dan tidak pula ingin diperlakukan istimewa oleh mereka. Kerendahan hati sifat Nabi terekam dalam berbagai riwayat yang menyertai kehidupan beliau, tidak hanya terhadap sahabat, tetapi juga terhadap sesama manusia. Saat berkumpul, misalnya, Nabi tidak mengizinkan para sahabat berdiri (menyambutnya) ketika beliau datang.

Kata beliau, “Janganlah kalian berdiri demi menghormatiku sebagaimana orang-orang Persia (Iran) menghormati orang-orang yang dihormatinya.”

Tulusnya cinta Nabi kepada mereka membuat beliau merasa tidak perlu diperlakukan melalui sikap penghormatan yang berlebih-lebihan. Demi menjaga etika sekaligus menunjukkan bahwa beliau tidak lebih istimewa di hadapan para sahabat, Rasulullah menjaga betul sikapnya.

Sewaktu duduk di suatu majelis atau perkumpulan, umpamanya, Nabi tidak pernah menjulurkan kakinya di antara mereka. Ketika duduk, beliau duduk di mana saja tanpa pilih-pilih tempat. Nabi duduk sama rendah dengan para sahabatnya dan berdiri sama tinggi dengan mereka.

Tipologi Kepribadian Nabi Muhammad SAW

Dalam catatan sejarah Rasulullah berhasil membina suku-suku di Jazirah Arab yang ketika itu merupakan pusat perdagangan dunia. Bahkan bukan hanya untuk sukunya sendiri. Ternyata beliau menaklukan semuanya berkat akhlak, charakter dan kepribadiannya yang menarik. Sehingga seantero penduduk negeri ketika itu mengenal dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya dengan gelar Al-Amin.

Gambaran kepribadian Rasulullah diantaranya, beliau selalu tersenyum bahkan mengajarkan kepada umatnya bahwa senyum merupakan bagian dari sedekah. ”At-tabassumu shodaqoh” senyum adalah sedekah.

Beliau juga selalu bersyukur, tidak pernah mengeluh dan tetap bersabar. Kita masih ingat ketika Rasul dilempari dengan batu dan kotoran oleh penduduk Thaif beliau tidak memintakan malaikat Jibril untuk menimpakan bukit kepada mereka padahal malaikat sudah menawarkan pilihan itu.

Nabi Muhammad SAW juga sebagai sosok penolong dan pemurah, bahkan sering mengabaikan kepentingan pribadi dan keluarganya hanya karena lebih mendahulukan kepentingan orang lain.

Ketika suatu hari beliau didatangi pengemis yang meminta makanan, padahal hari itu beliau dan juga putrinya Fatimah sama-sama belum makan. Beliau dengan ikhlas memberikan jatah makan yang sebelumnya disiapkan untuknya dan juga putrinya.

Rasulullah juga dikenal sebagai sosok yang Tidak pernah marah, tidak pernah kata-katanya menyakiti hati. Hal tersebut dapat tergambar dalam kisah Anas Bin Malik, seorang pembantu rasulullah yang mengaku bahwa beliau tidak pernah marah dan mengeluarkan kata-kata menyakitkan, selama sekian tahun Anas hanya mendapati beliau marah ditandai dengan wajahnya memerah, ”tangannya mengusap kepala ku kemudian menyuruh ku pergi sesuka hati ku.” Ungkap Anas (Syafi’i Antonio: 2015).

Rasulullah senang menutupi aib orang lain, rendah hati dan tidak sombong. Suatu saat  ketika perjalanan dari Madinah ke Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah Muhammad terlihat menarik unta sementara Abu Bakar berada di atas punggung unta. Beliau bukan saja menjadi penumpang setia namun bersedia bergantian dengan Abu Bakar selama perjalanan.

Lihatlah seorang pemimpin besar tidak malu untuk menuntun unta yang dinaiki bawahannya, Ini bukti kerendahatian beliau. Kepribadian beliau yang lain ialah Menepati janji, tidak pernah mau membicarakan orang lain dan tidak pernah berburuk sangka kepada orang .Kepribadian berikutnya yang dimiliki rasulullah adalah selalu Hadir pada kesusahan atau kebahagiaan orang lain. Telah terbukti ketika orang yang selalu memaki-maki dan meludahi beliau setiap perjalanan berangkat sholat Subuh tiba-tiba tidak nampak lagi di tepi jalan tempat biasa ia memaki.

Kemudian  Rasulullah menanyakan kepada sahabat yang lain kemanakah gerangan orang yang biasa meludahi ku. Sahabat menjawab bahwa ia sedang sakit. Maka Rasululullah pun datang menjenguk orang tadi.

Beliau juga Sangat ramah, menyapa terlebih dahulu (dia yang meminta semua pengikutnya harus menjadi orang ramah mengucapkan salam).Tidak membeda-bedakan orang lain. Beliau juga Rapi dan sering para sahabat menjumpainya saat sedang bersisir. Beliau Sangat bersih dan wangi, mengajurkan bersiwak atau mengosok gigi, memakai wangi-wangian.

Yang tak kalah hebatnya darikepribadian beliau adalah Pema’af. Ketika Du’Tsur mengejar Rasulullah untuk membunuh nya dengan harapan mendapatkan 100 ekor unta sebagai imbalan sayembara pemuka Kafir Qurais bagi siapa saja yang mendapatkan Muhammad dalam keadaan hidup atau mati.

Di suatu lembah Du’tsur mencoba menghampiri Rasulullah dengan wajah dan ucapan mengerikan serta hunusan pedangnya yang tajam namunRasulullah terselamatkan oleh kebesaran kalimah Allah SWT.

Setelah itu posisi pedang berpindah tangan, Rasul pun membalikkan arah pedang ke leher Du’tsur yang sudah mulai ketakutan sambil bertanya ”Wal An man yamna’uka minni”  Sekarang siapa yang akan menolongmu? dengan nada memelas Du’tsur menjawab tidak ada Muhammad melainkan jika engkau mau mema’afkan dan memberiku ampun. Rasulullah pun mema’afkan dan menyeruhnya untuk pulang.

Kebersamaan yang Memanusiakan Manusia

Abu Sa’id berkata, “Aku duduk bersama orang-orang muhajirin. Sebagiannya menutupi badan teman-temannya karena tidak memiliki baju. Rasulullah duduk di tengah-tengah mereka untuk menyertainya.”

Kasih sayang Rasul kepada para sahabat seolah memupus status kerasulan yang begitu tinggi menjulang. Diceritakan, dalam suatu perjalanan, Nabi dan para sahabat menyembelih seekor domba.

Pembagian tugas pun tebentuk; ada yang mencari kayu bakar, mencuci, memasak, dan lainnya. Nabi melibatkan diri dalam salah satu pekerjaan; mencari kayu bakar.

Para sahabat merasa tidak enak jika seorang rasul Allah harus terlibat dalam pembagian pekerjaan seperti itu. Suatu pekerjaan sepele yang bisa dilakukan oleh siapa saja.

Apalagi, tanpa keterlibatan beliau, para sahabat masih leluasa untuk melakukan nya. Kata mereka, “Wahai Rasulullah, biarlah kami yang mengerjakannya.” “Benar, tapi saya tidak ingin lain sendiri dibandingkan dengan sahabat-sahabatku (Syafi’i Antonio: 2015).

Sesungguhnya Allah swt tidak senang melihat seseorang berbeda dari sahabat-sahabatnya,” jelas Nabi dengan tenangnya. Tidak hanya itu, saat hendak melakukan sesuatu, beliau tidak suka memerintah sebelum beliau sendiri mengerjakannya. Begitulah Nabi.

Beliau adalah sahabat yang senantiasa menunjukkan nilai-nilai cinta terhadap sahabat-sahabatnya. Padahal, mudah saja bagi beliau memerintahkan mereka untuk mengerjakan pekerjaan tertentu tanpa membantunya sama sekali. Sebagai pemimpin, beliau melekat dengan tipe keteladanan, bukan tipe pemerintah.

Seorang ahli pengembangan diri terkemuka, Stephen Covey (2007), menjelaskan, meskipun kerendahan hati bukan sesuatu yang dapat diraba, kita mengenalnya di saat kita menyaksikan nya, dan merasakannya di saat kita mendengarnya. Begitu pula dengan kerendahan hati sang manusia agung itu, Muhammad SAW. Rendah hati (tawadhu’) merupakan sifat yang sangat terpuji di sisi Allah dan sangat disenangi oleh orang lain.

Rendah hati akan melahirkan berbagai sikap mulia seperti menghargai dan menghormati orang lain. “Janganlah kalian memuji diri kalian (menyombongkan diri)….” (An-Najm [53] : 32) “Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy-Syu’ara’ [26] : 215).

Menurut imam Syafi’i, sifat tawadhu’  akan melahirkan cinta kasih. Rendah hati membawa diri pada keselamatan, menciptakan keakraban, menghilangkan kedengkian dan persengketaan. Buah dari sikap tazvadbu’ (rendah hati) adalah kecintaan, sebagaimana ketenangan adalah buah dari sikap gana’ah (kecukupan).

Jika orang yang mulia mempunyai sikap rendah hati, maka bertambahlah kemuliaannya, sebagaimana orang hina yang sombong, maka bertambahlah kehinaannya melihat orang yang lebih tua darinya seraya mengatakan, “la lebih dulu dariku masuk Islam.” Bila melihat orang yang lebih muda ia bersikap rendah hati dengan mengatakan, “Saya lebih dahulu berbuat dosa daripada la”.

Tatkala melihat orang yang sebaya menganggapnya sebagai saudara. Rasa rendah hati itulah yang membuat ia tidak bersikap sombong terhadap saudaranya dan tidak menganggap remeh seseorang.

Model Pergaulan Nabi

Di salah satu sudut kota Madinah, seorang pengemis Yahudi yang buta berdiam. Setiap kali ada orang yang mendekatinya, ia berkata, “Janganlah engkau mendekati Muhammad karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.”

Apa yang Rasulullah lakukan terhadap pengemis buta itu?. Setiap pagi, beliau mendatanginya dan membawakan makanan. Tanpa berbicara sepatah kata pun, beliau menyuapi si pengemis dengan penuh kasih sayang. Kebiasaan tersebut beliau lakukan setiap pagi sampai wafat, dan setelah itu tidak ada lagi yang membawakan makanan kepadanya.

Sepeninggal Rasulullah, Abu Bakar bertanya kepada Siti Aisyah, “Wahai putriku, adakah satu sunnah kekasihku yang belum aku tunaikan?” Lalu Siti Aisyah menjawab sambil menangis, “Setiap pagi, Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yang buta yang berada di sana.”

Keesokan harinya, Abu Bakar menemui si pengemis itu. Setelah bertemu muka, Abu Bakar mencoba menyuapinya dengan makanan yang dia bawa. Akan tetapi, pengemis itu malah berteriak, “Siapa kamu?”. “Aku ini orang biasa.” jawab Abu Bakar. “Bukan…! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” jawabnya.

“Jika ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi dia haluskan dulu makanan tersebut dengan mulutnya sendiri.” ungkapnya lebih lanjut.

Kemudian Abu Bakar tidak kuasa menahan air matanya. Subhanallah. (M. Husain Haikal: 2014). Padahal ketika itu, Rasulullah telah menjadi kepala Negara. Beliau sangat dihormati, pengaruhnya sangat besar, orang-orang tunduk kepadanya, dan jumlah tentara yang dimilikinya mencapai ribuan orang.

Kalau mau, sangat mudah bagi Rasulullah untuk sekedar menghukum atau menyingkirkan seorang pengemis tua yang juga buta itu. Namun, lewat interaksinya dengan pengemis Yahudi itu, Rasulullah mengajari kita bagaimana cara memaafkan kesalahan orang lain, bagaimana bersikap rendah hati (tawadhu’), bagaimana memberi tanpa pamrih.

Sekarang coba anda renungkan dan ambil hikmahnya betapa mulainya sikap Rasulullah itu.

Kepada keluarga nabi Keluarga adalah kumpulan orang yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Allah juga telah mengganjurkan setiap manusia untuk berkeluarga (menikah). Saking agungnya pernikahan, Allah menilai dua-per-tiga keimanan adalah dengan nikah.

Namun kenyataan sekarang, kenapa sering terjadi perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, pembuangan anak, dan lain sebagainya?. Oleh karena itu, untuk memecahkan pertanyaan itu, jawabannya adalah teladanilah pemimpin keluarga yang terbaik, yaitu Rasulullah.

Begitupun sikap kepada tetangga, Ada ciri khas yang dimiliki Rasulullah terkait dengan sikap terhadap tetangga ini, yaitu beliau tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya. Suatu hari, ketika Rasulullah sedang duduk, datang seorang anak dan berkata, “Ibuku menginginkan baju untuk dipakai.”

Beliau menjawab, “Beberapa saat lagi ada baju, kembalilah kemari. Si anak menemui ibunya dan menceritakan apa yang dikatakan Rasulullah. Kemudian ibunya berkata, “Kembalilah kepadanya dan katakan, ‘Ibuku menginginkan baju yang sedang kamu pakai’!”

Anak itu segera kembali kepada beliau dan mengatakan apa yang dikatakan ibunya. Rasulullah pun tersenyum dan masuk ke rumah serta melepas bajunya untuk diberikan kepada anak itu. Beliau sendiri duduk tak berbaju. Bilal, sang muadzin tiba dan kaum muslim menunggu, tapi Rasulullah tidak bisa segera pergi untuk menunaikan shalat berjamaah.

Selain itu, Rasulullah juga mempunyai sikap humoris terhadap tetangganya. Suatu ketika, seorang nenek lanjut usia datang kepada beliau. Dengan perasaan sedih dan cemas ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya dapat masuk surga?” Rasul menggerutkan kening, lalu dengan suara berat seraya menghela nafas beliau menjawab, “Maaf Nek, di surga tidak ada orang tua.”

Maka nenek itu pun menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya sebagai orang tua. Tetapi Rasulullah cepat menyambung ucapannya, “Nek, maksud saya bukan Nenek tidak akan masuk surga.” “Jadi?” tanya si nenek. “Nenek bakal masuk surga, tetapi di sana Nenek akan menjadi muda lagi,” ucap Rasulullah menenangkan si nenek. Nenek itu pun tertawa gembira membayangkan nasibnya yang akan jadi perawan kembali di surga.

Begitulah cara Rasulullah bercanda. Sekadar menyegarkan suasana, namun tetap menjaga selorohnya agar dapat membahagiakan orang lain, bukan menyakitkan atau menyinggungnya.
Itulah Rasulullah pemimpin dan teladan kita.

Menurut Aisyah, beliau adalah orang yang pertama kali merasakan lapar pada saat umatnya kelaparan. Namun, beliau menjadi orang terakhir yang merasakan kenyang ketika umatnya berada dalam kemakmuran.

Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah kenyang sepanjang tiga hari berturut-turut. Seandainya kami mau pasti kami kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri.”

Sekarang coba anda renungkan dan ambil hikmahnya betapa indahnya sikap Rasulullah itu. Dan apakah anda sebagai pemimpin (bagi rakyat anda, bawahan anda, isteri dan anak-anak anda, serta diri anda sendiri) sudah memahami dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah? Mungkin dalam hati anda berkata, “Iya, itu kan manusia pilihan Allah, utusan Allah (Rasulullah), sedangkan saya kan hanya manusia biasa.”

Bukankah Rasulullah itu diutus untuk memperbaiki akhlak? Jika, seorang guru akhlaknya rusak, bagaimana dengan muridnya?. Mudah-mudahan kita selalu berpikir dan dapat mengambil pelajaran. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad untuk umat manusia. (*)

 

Penulis : Asep Abdurrahman
Dosen FAI UMT dan Pengajar SMP Daarul Qur’an Internasional

Iklan Ucapan

About Redaksi

Check Also

XL Axiata Gelar “Youth Leadership Camp 2017” di Jabodetabek

Tangsel – Generasi muda yang berkarakter dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat merupakan modal untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menyambut Bukan Ramadhan