HARI KARTINI : UJIAN SEJARAH ATAU MERAYAKAN SEJARAH | BIDIK Tangsel
Menyambut Bukan Ramadhan
Home / News Tangsel / HARI KARTINI : UJIAN SEJARAH ATAU MERAYAKAN SEJARAH

HARI KARTINI : UJIAN SEJARAH ATAU MERAYAKAN SEJARAH

#Opini #SuaraWarga, Tangsel – Setiap tanggal 21 April masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk symbol perjuangan perempuan yang pada waktu itu Ia begitu sulit untuk keluar dari peran perempuan yang termarginalkan. Sosok Kartini yang cerdas, mampu beraksi ditengah tengah arus yang kurang menentu, membuat Kartini menjadi gelisah menerobos kemapanan kaum laki laki yang lebih mendapat tempat di ranah publik.

R.A. Kartini tidak dikaruniai umur panjang, dia lahir pada 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904. Tetapi umur yang singkat itu mampu menggoreskan sebuah riwayat yang dikenal banyak orang.

Kartini dikenal lewat surat-suratnya yang mampu menggetarkan hati setiap pembacanya. Surat-surat itu kartini tulis sejak 25 Mei 1899 sampai 7 September 1904. Surat terakhir Ia tulis tepat sepuluh hari sebelum meninggal.

Hidupnya yang singkat seakan-akan memantulkan misteri yang cukup memukau, karena Kartini adalah gadis bangsawan pingitan, namun ia mempunyai jiwa yang peka terhadap lingkungan bangsanya.

Sebagai penentang poligami Kartini membiarkan dirinya menjadi istri ke empat dari R.M Joyo Hadiningrat seorang Bupati Rembang. Surat-surat Kartini memang telah menjadi bukti sejarah tentang kemelut yang terjadi di sebuah masyarakat yang sedang mengalami perubahan mendasar.

Ia bukan hanya mewakili citacita tentang perubahan, namun juga menjadi kiblat. Yakni, kiblat baru yang ditandai oleh masuknya pengaruh pendidikan barat ke benak masyarakat Jawa tradisional pada masa itu (Siti Soemandari Soeroto: 1979: 180).

Dalam surat-surat yang membentang pada jarak kurang lebih dalam waktu lima tahun, dapat ditelusuri tentang pengalaman Kartini, sebagai anak zaman yang sedang mengalami perubahan.

Kartini bukanlah pemenang dalam perlawanannya tersebut. Dia harus berani melawan terhadap penjajah, penindasan, kekolotan, kebodohan, dan keserakahan tanpa harus menyebut dirinya “pahlawan”.

Dia juga harus berhadapan dengan pihak kolonial Barat yang hendak menghalangi perubahan-perubahan yang sedang terjadi di tengah bangsanya.

Seutas Sejarah Kartini

RA Kartini merupakan sosok wanita yang dilahirkan ditengah tengah keluarga bangsawan Jawa. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879 dan wafat pada tanggal 17 September 1904.5 Ayah Kartini bernama R.M Joyo hadiningrat sedangkan ibunya adalah MA Ngasirah. MA Ngasirah merupakan istri pertama namun bukan yang utama karena peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristri bangsawan.

Untuk itu R.M Joyo hadiningrat kemudian menikah lagi dengan RA Woerjan (Moerjam).6 Perkawinan R.M Joyo hadiningrat dengan MA. Ngasirah melahirkan 8 orang anak yaitu: RM Slamet Sosroningrat, P. Sosroboesono, RM Panji Sosro Kartono, RA Kartini, RA Kardinah, RM Sosro Mulyono, RA Sumatri Sosrohadi Kusumo, RM Sosrorawito.

Sementara itu perkawinannya dengan RA Moerjam melahirkan 3 orang anak yaitu: RA Sulastri Hadisosro, RA Roekmini dan RA Kartinah.

Dalam kultur masyarakat Jawa, bangsawan memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia merupakan kelompok masyarakat yang dianggap sebagai model dari kultur budayanya. Ia memberikan nilai-nilai moral dalam kehidupan masyarakat.

Bangsawan juga merupakan satu-satunya kelompok yang sangat dekat dengan raja. Karena kerajaan merupakan pusat budaya maka dengan demikian bangsawan merupakan konseptor dari kultur masyarakatnya. Dari keluarga seperti inilah Kartini dilahirkan.

Keluarga Kartini merupakan kelompok bangsawan yang telah berpkiran maju. Kakeknya, Pengeran Condronegoro merupakan generasi awal dari rakyat Jawa yang menerima pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda dengan sempurna.

Diantara putra-putra Pangeran Condronegoro yang terkenal adalah Pangeran Ario Hadiningrat, RMAA Ario Condronegoro dan RMAA Sosroningrat. RMAA Condronegoro merupakan seorang sastrawan yang banyak dikenal oleh pembaca baik di Indonesia maupun di Belanda.

Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain: Kesalahan-kesalahan dalam berkarya sastra Jawa (1865), Pengelanaan Jawa (1866), dan Kritik dan catatan atas buku karangan Veth “Java” jilid 1 tahun 1875-1888 (Suryanto Sasroatmojo: 2005: 170).

Renungan Spritual Kartini

RA Kartini dalam membaca dirinya tidak hanya menggunakan media surat menyurat namun kartini juga mempunya pandangan tentang beberapa aspek yang terkait dengan perjuangannya. Seperti kita ketahui bahwa kartini terpejit oleh kondisi sosiologisnya dalam hal ini adalah perjuangannya terhadap ketidak adilan yang menderanya.

Disaat itulah Kartini terdorongan untuk merenung tentang sebuah keadilan bagi dirinnya.

Gagasan Kartini tentang Tuhan dan Agama bukanlah sebuah gagasan orisinil dalam masyarakat Jawa maupun Barat. Namun gagasan Kartini itu memiliki orisinalitas yang terletak pada aktifitas korespondensinya dengan sahabat-sahabatnya yang beda agama.

Aktifitas tersebut nampaknya mengarah pada bentuk dialog antar agama yang belum pernah dilakukan oleh seorang pemikir agama di tanah Jawa saat itu.

Kartini bisa dikatakan orang yang pertama kali melakukannya.
Kartini berkeyakinan tentang monoteisme bahwa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah tuhan semua orang dan semua agama.

Paham Kartini tentang tuhan lebih banyak bersifat realistik dari pada metafisik, karena Kartini menganggap bahwa Tuhan adalah kebajikan. Sehingga makna yang diberikan Kartini pada-Nya mengandung suatu sifat positif, jelas tanpa sesuatu yang samar.

Kartini dalam memahami agama tidak hanya sekedar teks saja. Ia beranggapan bahwa segalanya harus bisa dipertanggung jawabkan kepada akal dan sesuai dengan kriteria pemikiran dirinya. Ia ingin dalam memaham agama harus sampai dengan sari-sarinya yakni filsafatnya.

Meskipun Kartini berteori sendiri di bidang keagamaan, ia tetap menjadi wanita muslimah yang taat walaupun kadang ia gelisah dengan pendidikan agama yang ia peroleh saat itu.

Karena ulama’nya selalu memojokkan perempuan dengan rendahnya kedudukan perempuan dibanding laki-laki (Idjah Chodijah: 1996: 85).

Kegelisahan batin Kartini yang bersangkutan dengan masalah-masalah agama. Bagaimana ia menempatkan agama dalam proses perubahan masyarakat serta apa peran yang bisa dijalankan oleh agama dengan kejadian tersebut.

Sedangkan mengenai tujuan pendidikan itu sendiri kartini berpendapat bahwa, pendidikan tidak hanya mencerdaskan otak saja namun juga harus bisa membentuk budi pekerti yang luhur.

Pernyataan ini tercantum dalam suratnya yang tertanggal 21 Januari 1901 Kartini mengatakan bahwa: “ pendidikan adalah mendidik budi pekerti dan jiwa … kewajiban mendidik belumlah selesai apabila ia hanya baru mencedaskan pikiran saja, dia juga harus mendidik mendidik budi.

Berangkat dari pemikiran Kartini mengenai pendidikan, maka kita mengetahui bahwa tidak ada perbedaan antara pendapat Kartini dengan tujuan pendidikan agama itu sendiri terutama pendidikan Islam.

Menurut Qodri Azizy (2002) pendidikan Islam adalah mendidik siswa atau siswi untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat atau berakhlak yang tidak baik yang nantinya bisa merugikan umat manusia, begitu juga dengan agama yang lain.

Semua agama yang ada di dunia pada umumnya mengajarkan umatnya untuk berbuat yang bisa memberikan manfa’at bagi umat manusia. Agama pada dasarnya mengajarkan kedamaian, dan tidak pernah menganjurkan pada umatnya untuk membeda-bedakan antar sesama umat. Saling menghormati dan saling menghargai adalah salah satu wujud dari pendidikan Agama Islam dalam ranah afektif yaitu akhlak.

Gagasan Kartini tentang Tuhan dan Agama bukanlah sebuah gagasan orisinil dalam masyarakat Jawa maupun Barat.

Namun gagasan Kartini itu memiliki orisinalitas yang terletak pada aktifitas korespondensinya dengan sahabat sahabatnya yang beda agama. Aktifitas tersebut nampaknya mengarah pada bentuk dialog antar agama yang belum pernah dilakukan oleh seorang pemikir agama di tanah Jawa saat itu.

Kartini bisa dikatakan orang yang pertama kali melakukannya.Dalam konteks kekinian, gagasan Kartini mengenai Tuhan dan agama amat relevan untuk mengembangkan pemikiran tentang hubungan antar agama yang lebih positif serta kerja sama antar agama untuk mengatasi persoalan kemasyarakatan bersama-sama.

Diharapkan pemikiran pendidikan agama Kartini bisa menawarkan masukan baru dalam mengurai masalah yang tengah dihadapi dunia pendidikan saat ini.

Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti tentang kehidupan keberagaman Kartini saat itu, pemikiran Kartini dan pendidikan Agama Islam, juga nilai-nilai pendidikan agama Islam pada suratsurat Kartini dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Sisi Kritis hari Kartini

Setiap tanggal 21 April Bangsa Indonesia mempringati hari Kartini. Dari mulai sekolah TK sampai sekolah SMA, dari mulai kebaya mahal sampai mengenakan kebaya antik dan mahal.

Dari mulai pejabat rendah sampai pejabat teras yang mengenakan warna warni pakaian dalam rangka memperingati Hari Kartini. Apakah ada yang salah ketika anak-anak dan para pejabat mengenakan kain dalam rangka menghormati hari Kartini ?, tentu tidak, namun persoalannya adalah bagaimana kita memposisikan sejarah Kartini dalam konteks orsinalitas dalam bingkai sejarah bangsa Indonesia.

Peneliti INSISTS, Tiar Anwar Bachtiar pernah mengatakan dalam salasatu artikelnya yang dimuat di situs voa-islam bahwa Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Konin klijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Satu objek dalam mnemonic manusia tidak akan sama persis gambarannya dalam hal mengingat, apalagi dalam temporal tertentu (Geertz: 2003). Oleh karenaTulisan artikel ini bukan untuk menapikan pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini.

Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno.

Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia.

Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia?.

Asvi Warman Adam dalam bukunya “Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Perisiwa” (2009) menjelaskan sejarah selama ini terlalu dimanipulasi. Tokoh-tokoh penting menurut sejarah Indonesia pun tidak lepas dari campur tangan penjajah, siapa sangka jika yang tidak melawan Belanda dapat disebut pahlawan? Ini seperti menempatkan bangsa Indonesia pada jebakan ilusi penokohan, akhirnya fanatik terhadap satu kelompok yang menyebabkan disintegrasi bangsa.

Bagaimana dengan Kartini? Benarkah dia adalah tokoh emansipasi wanita atau sengaja dibuat agar di masa depan, bangsa ini terjebak pada penokohan yang tidak realitas dengan kemajuan.

Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap TerbitlahTerang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya.

Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.
Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan.

Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.

Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.

Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.
Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Apa karena Cut Nyak dibenci penjajah? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda.

Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik.

Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.

Penulis : Asep Abdurrahman
Dosen FAI UMT dan Pengajar SMP Daarul Qur’an Internasional

About Redaksi

Check Also

Airin : Smart City Bukan Lagi Sebuah Pilihan Akan Tetapi Sebuah Keharusan

Ciputat – Sebanyak 25 Kabupaten/Kota yang terpilih sebagai Smart City hadir untuk melakukan penandatanganan MoU …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *