Ciputat Timur – Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Dr. Mukhaer Pakkanna angkat bicara soal polarisasi masyarakat yang akan terjadi menjelang atau pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti. Dia menilai, untuk meredam polarisasi tersebut, idealnya budaya tabayyun mesti dimunculkan di tengah maraknya pemberitaan bohong (hoax).

“Masyarakat pada level menengah ke bawah bersiap-siap terpolarisasi tajam. Yang bakal menyeruak yakni, saling melempar berita bohong (tanpa tabayyun), saling mengafirkan, saling fitnah, dan seterusnya, dan acap dibumbui pula dengan sentimen keagamaan atau politik identitas seperti suku, etnis, dan lain-lain. Dan itu dianggap kegaliban. Lain halnya jika mereka berafilisasi secara resmi dengan kandidat kontestan tertentu, maka “sedikit” bisa dimaklumi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia menyampaikan padahal para kontestan itu seolah hanyalah “boneka mainan” dari sang sutradara pemilik modal raksasa. Mereka bakal dimainkan oleh para bohir. Bahkan, mereka dijadikan komprador dari pihak asing.

“Para bohir inilah sejatinya yang bakal menikmati hasil akhir, yakni empuknya permainan politik liberal di Tanah Air. Sementara rakyat kembali akan gigit jari dan kembali ke habitatnya semula. Dan itu sudah biasa,” katanya.

Diakhir, Sekretaris Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah ini kembali mengingatkan kepada masyarakat secara luas bahwa biaya politik tidaklah murah, apalagi dalam Pilpres.

“Harap dingat, kontestasi Pilpres membutuhkan biaya puluhan triliunan rupiah, darimana kira-kira itu semua?” tegasnya. (***)

Humas dan Media Officer
STIE Ahmad Dahlan Jakarta

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.