#Opini – Kegaduhan hubungan agama dan negara saat ini menggambarkan bangsa sedang kehilangan orientasi nilai. Sulit mengambil pilihan berpijak pada apa ?

Di satu sisi penduduknya mayoritas muslim, tetapi di sisi lain secara sistem kenegaraan, sistim budaya dan kehidupan ekonomi, sudah terkepung oleh nilai- nilai dari Barat.

Sementara di kalangan umat Islam sendiri terjadi “pertempuran” pengaruh dan klaim kebenaran.

Yang terjadi kemudian, mengambil sepotong _sepotong, parsial dan tidak konseptual dasar pijakan kebijakan yang dipakai. Alih alih ingin mengakomodir semuanya .

Ini pertanda bangsa sudah kehilangan jati diri dan karakter

Padahal, pendiri bangsa ini mengerti apa yg akan terjadi ke depan sehingga Pancasila sebagai kekuatan perekat yang jadi dasar bernegara

Kenapa kini Pancasila tidak dikembangkan?

Negara lain sangat mengagumi Pancasila bahkan nilai- nilainya sudah diadopsi oleh PBB.

Pancasila adalah kristalisasi dari akar bangsa. Kita telah mengabaikan akar bangsa sendiri. Akar bangsa ini sangat kuat hingga menjadi penopang pohon peradaban bagi umat manusia di seluruh dunia.

Dari Nusantara lah semua peradaban itu lahir dan berbunga serta berbuah lalu menyebar ke seluruh penjuru bumi.

Mana ada bangsa di dunia yang memiliki kebudayaan dan kekayaan sehebat Indonesia.

Mengapa kita malah senang mengadopsi “rongsokan” peradaban Barat dan Arab ?

Nusantara adalah akar dan batang besar peradaban umat manusia, mengapa kita bergantung pada ranting-ranting kering peradaban mereka.

Dalam novel terbaru saya “Petualangan si Jaun” saya gambarkan kedua “rongsokan” itu sedang mengepung dan mengolok -olok Si Jaun yg merupakan gambaran dari keaslian budaya Nusantara (kejujuran, kesantunan, kebaikan, rendah hati, menghargai dan berorientasi pada Tuhan dan keseimbangan alam).

Kerusakan alam dan kemiskinan rakyat di tengah kekayaan alam gambaran jelas bangsa ini sedang tidak memelihara bahkan merusak akar.

Langkah kita, harus kembali ke akar. Ke akar agama (penyerahan diri pada Sang Pencipta), dan akar budaya- adat lokal Nusahtara sebagai benteng terakhir pertahanan Nusantara yang merupakan inti jagad.

Boleh saja kita bergaul dengan Barat dan Arab, tetapi ruh dan jati dirinya adalah tetap Nusahtara.

Pakailah baju terbaik (bukan rongsokannya) dari Barat dan Arab, tapi isinya (hati dan pikiran) adalah tetap sebagai manusia Nusantara.

Manusia Nusantara (jantung bumi) memiliki kekuatan penyeimbang agar poros bumi tetapi berjalan sesuai sistimnya (harmoni).

Oleh : Uten S

(BSD city , 2019)

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.