Oleh Uten S

Serpong, bidiktangsel.com – Begitu hebatnya pengaruh dominasi logika dalam tata kerja kehidupan manusia hingga kini terbentuklah peradaban fisik (keluhuran hidup diukur dan dlihat dari perspektif fisik).

Seseorang dibilang hebat bila bertubuh tampan, ganteng, bermobil dan memiliki rumah bagus serta jabatan mentereng meskipun kualitas ahlak pribadi rendah.

Seorang pemimpin yang dibilang mantap, tajir, very good, dan sebagainya adalah yang memiliki ketampanan kecantikan, kaya, dan berasal dari keluarga kaya-raya atau penguasa, meskipun bermental korup.

Seorang anak dibilang atau dianggap berhasil jika bisa lulus kuliah dengan nilai bagus, kemudian mempunyai rumah besar, memiliki mobil mewah, beristeri cantik atau bersuamikan tampan, meskipun tidak berbakti kepada orang tua, dst, dst.

Maka, terjadilah perlombaan kekuasaan dan kekayaan di hampir semua lini kehidupan tanpa mengindahkan moralitas.

Pemimpin yang sudah terbukti korup dan merugikan negara tetap menang dalam banyak momentum pileg, pilkada, dan pilgub.

Seniman, budayawan, artis, dan lain-lain, tetap dipuja dan dianggap figur meskipun hidup bergelimang narkotika dan menganut gaya western bebas (hedonis)

Anggota dewan tetap disebut terhormat dan mendapat fasilitas mewah meskipun lebih aktif dan rajin berkonspirasi untuk menang dan “panen lebih dulu’ ketimbang turun ke kampung, membela perut kosong dan berjuang membela nafas derita rakyat.

Para ulama, ustad, pendeta, biksu, tetap memiliki pengikut meski senang mengenakan jubah panjang “berkantong banyak,” serta rajin menyebar kebencian antar sesama ummat.

Para pengusaha tetap disebut mitra pemerintah dan masuk golongan warga kelas nomor satu meskipun sering merusak alam, mengeruk “laba,” menguras keringat rakyat, dan menyogok pejabat.

Kaum birokrat tetap disebut ‘abdi negara” meskipun senang “bermain- main” dengan uang hasil dari pajak rakyat, kongkalingkong, dst, dst.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi?

Manusia sudah menyimpang dan lari jauh dari hati dan dari nilai-nilai .

Padahal Tuhan tidak pernah menunjuk kan wujud fisikNya, kecuali IlmuNya.

Para nabi dan Rasul tidak pernah menunjukkan siapa dan apa statusnya, kecuali komitmennya mengemban hidup dengan akhlak mulia dan menjalankan amanah.

Para sahabat tidak pernah menunjukkan kekuasaan dan bentuk pemerintahan, kecuali memberi contoh praktek tentang kehidupan Nabi sesuai keahlian di bidangnya.

Ketika ada banjir besar dan saparuh bumi tenggelam, Nabi Nuh mengajak anaknya, Kan’an, agar ikut naik ke atas perahu bersama umat Nabi Nuh dan hewan -hewan peliharaan, justru anaknya menolak dan memilih naik ke atas gunung hingga ikut tenggelam bersama para pembangkang kebenaran.

Nabi Nuh menangis tersedu -sedu dan mengadu kepada Allah. Lalu Allah berfirman , “dia bukan anakmu.”

Contoh dan gambaran di atas menunjukkan bahwa substansi “memimpin” dan yg dipiimpin bukan soal yang terlihat dan teraba secara fisik (propan).

Bukan nabi dan Rasul jika tak ada nilai yang dibawa. Bukan sahabat bila tak mengakui dan menjalankan nilai- nilai (ajaran) nabi. Bukan anak bila tidak mengikuti nilai- nilai baik dari orang tua.

Bukan pemimpin jika tak memiliki dan membawa nilai -nilai baik. Juga tak memiliki kemampuan menjadi pengatur nilai-nilai baik tersebut, dst , dst

Pemimpin bukan perkara mengatur orang dan membangun kota (secara fisik) dengan biaya besar dan mendirikan aneka bangunan menjulang, tetapi tugas pemimpin adalah mengatur, dan mampu mengambil keputusan serta mengartikulasikan nilai-nilai baik yang tersebar untuk membenahi kehidupan publik

Membangun kota berarti membangun kekuatan nilai. Membangun birokrasi dan manajemen berarti sebuah strategi dan seni mengeluarkan, mengartikulasikan isi (nilai-nilai) dari bungkus, dst. dst

Dan nilai-nilai itulah yang seharusnya menjadi power of change bagi pembangunan tata dunia. Wassalam .

(BSD City 2019)

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.