Ngopi Se Warung, Opini – Uten Sutendy, seorang penulis sekaligus filsuf, yang malam itu (14/8) memancing kegaduhan di sebuah grup WhatsApp yang dimotorinya, Tangsel Club (TC).

Sebagian orang mempertanyakan tagar #2020TangselBebas yang dikirimnya ke grup. Bebas dari apa? Bebas dari siapa? Apakah saat ini Tangsel terkungkung atau terpenjara sehingga perlu digerakkan sebuah jargon yang menggelorakan kebebasan?

Jika bukan Bang Uten yang mengirim gambar bertagar itu, situasi barangkali akan biasa-biasa saja. Tetapi ketika seorang Presiden Tangsel Club—sebuah paguyuban para elit kota ini—yang mengeluarkan tagar itu, orang pantas bertanya-tanya. Apa makna dari kata ‘bebas’ itu? Apa maksud seorang Uten mengeluarkan kampanye dengan tagar itu?

Secara diplomatis Bang Uten menyerahkan pemaknaan terhadap #2020TangselBebas kepada masing-masing pihak. Setiap orang akan punya tafsirnya sendiri berdasarkan imajinasi dan kapasitasnya masing-masing.

Setiap anggota grup itu berhak meletakkan tagar itu pada konteks tertentu, sesuai kehendak orang per orangnya. Meski, memang, ketika ia dihubungkan dengan konteks Pilkada yang akhir-akhir ini menghangat, tagar itu menjadi seksi sekaligus provokatif.

Namun, itulah kekhasan seorang Uten Sutendy. Meski belum lama mengenalnya, saya menangkap banyak lapisan (layer) dalam setiap pemikiran dan ungkapan-ungkapannya. Bang Uten adalah pribadi yang secara ‘nakal’ senang menyembunyi kan makna sejati dalam setiap tulisan maupun ucapannya…

Kemudian ia melepaskan dirinya dari otoritas makna itu dan membebaskan semua pihak menafsirkan apa yang ia katakan atau kalimatkan. Ia adalah penulis dengan kelihaian ‘interplay’ tingkat tinggi.

Jadi, apa yang ‘bebas’ dari dan untuk Tangsel di tahun 2020? Melalui catatan sederhana ini, izinkan saya memberikan pemaknaan dari sudut pandang saya sendiri.

Bila #2020TangselBebas memang merupakan medan tafsir yang terbuka, saya tertarik mencoba untuk memaknai nya.

Saya teringat konsep kebebasan (liberty) yang diperkenalkan oleh Isaiah Berlin, teoritisi politik keturunan Inggris-Rusia, yang membagi kebebasan menjadi dua (Two Concepts of Liberty, 1958), yakni bebas dari (freedom from) dan bebas untuk (freedom to). Akan menarik jika kita memahami ‘kampanye’ Bang Uten dengan dua konsep kebebasan ini.

Bagi saya, pertama-tama Tangsel harus bisa mencapai kondisi ‘bebas dari’. Charles Taylor menyebut situasi ini sebagai kebebasan negatif (negative freedom).

Tangsel harus bebas dari hal-hal negatif yang melingkupi dirinya, apapun itu. Jika kita mengeluh soal kemacetan, Tangsel harus terbebas dari kemacetan itu. Jika warga kota ini tersiksa karena pengelolaan sampah yang buruk, mereka harus terbebas dari kondisi itu. Jika masalah besar kota ini adalah ketimpangan, maka kebebasan yang paling penting bagi warga kota ini adalah bebas dari gagalnya tata kelola pemerintahan yang melanggengkan ketimpangan itu.

Singkatnya, kita harus bisa bebas dari apapun yang kita anggap negatif dari kota ini.

Kedua, bebas untuk (freedom to). Taylor menyebut ini kebebasan positif (positive freedom). Sederhananya, konsep kedua ini memberi tahu kita bahwa jika kita telah mencapai kebebasan ini, maka kita bebas untuk mendapatkan atau mengakses hal-hal baik di sekeliling kita.

Jika pemenuhan hak-hak individu yang adil adalah hal positif bagi kota ini, maka warga Tangsel harus bebas untuk bisa mendapatkannya.

Bila perlindungan keamanan, pemenuhan kebutuhan dasar minimal, jaminan sosial masyarakat, pendidikan berkualitas, udara yang bersih, kehidupan yang rukun dan toleran, atau hal-hal baik lainnya merupakan ‘impian positif’ kota ini, maka warganya harus merasa bebas untuk mendapatkannya.

Saya kira, itulah visi dari #2020TangselBebas. Bebas dari dan bebas untuk. Jika kita bisa mewujudkan kota ini dengan dua visi kebebasan itu, maka segala hal tentang kota ini bisa disusun dan dinarasikan ulang untuk kemaslahatan semua pihak yang lebih luas.

Apakah ini politis? Tentu itu tergantung sudut pandang masing-masing. Apakah ini tentang seseorang atau sekelompok orang? Saya kira, spirit besarnya adalah tentang kebaikan kota ini di masa yang akan datang.

Anda boleh berkomentar apapun tentang esai sederhana ini. Seperti kata Bang Uten, Anda bebas menafsirkannya. Selama kita bisa bebas dari rasa saling benci, saling curiga dan saling menyakiti… Serta bebas untuk saling mencintai, menghormati, dan menyayangi. Untuk masa depan dan kebaikan kota ini, tentu saja!

*Oleh Fahd Pahdepie* – Intelektual dan entrepreneur muda. Tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.