Serpong – Diskusi yang di gelar oleh Komunitas Tangsel Club (TC) “Ngopi Se Warung” bersama kaum milenial yang bertemakan Kemana Arah Politik Kaum Milenial digelar di Resto Bupe Cilenggang Serpong Kota Tangsel, Sabtu (30/8-2019).

Acara yang di hadiri para Milenial Kota Tangsel ini di Moderator oleh Mr. Ten (Uten Sutendi) yang juga selaku Presiden Tangsel Club.

Sebagai Narasumber hadir anak muda Tangsel yang saat ini menjadi Staf Ahli Presiden, Fahd Pahdapi, Politikus muda dari partai PDIP, Putri Ayu Anisya, Helmi Fabeta.

Sepenggal kalimat yang diucapkan Fahd Pahdapie dalam Diskusi ini tentang kaum milenial berpolitik dapat menjadi bahan analisa.

“Saya tidak sepakat bahwa Politik itu tidak boleh transaksional. Politik itu harus transaksional, karena antara orang menjadi politisi dan konstituen harus ada transaksi, masalahnya transaksinya itu harus fer, tidak boleh diruang gelap, selama transaksi terjadi di ruang gelap politik tidak akan membawa kita kemana-mana, kalau kita membawa transaksi ke ruang terbuka, ke ruang yang bisa lihat orang maka kita bisa melihat cahaya kemajuan kota ini,” ujarnya.

Moderator Diskusi Mr. Ten mengatakan Putri Ayu Anisyaa dalah seorang aktivis partai yang baru dilantik menjadi Anggota dewan dan sangat milenial dari sisi penampilan nya.

“Apakah pemikiran-pemikirannya Milenial ? Bagaimana pemikirannya untuk bisa memperjuangkan birokrasi politik di dewan ini. Apa yang akan dilakukan sebagai milenial di dewan?,” tanya Mr. Ten sebagai moderator kepada Putri Ayu.

Menurut, Putri Ayu yang baru dilantik menjadi legislatif beberapa hari lalu dari PDI Perjuangan, berumur 25 thn dan kader termuda di partainya dan untuk di legislatif ada yang lebih muda dari nya.

“Saya menggangap itu suatu apresiasi bahwa kehadiran teman-teman milenial dipolitik hari ini sudah tidak dianggap sebelah mata, karena ada lho…di Tangsel seorang calon legislatif berumur 22 tahun yang terpilih sebagai anggota DPRD,” ujar Putri Ayu yang diikuti tepuk tangan dari yang hadir.

Putri juga menjelaskan mengenai perannya milenial di politik bahwa melenial atau pemuda tidak saja didefinisikan soal usia.

“Saya sangat sering kecewa berat bahwa ketika ada pengurangan makna atau birokrasinya para politisi ketika saya turun ke masyarakat dianggap miskin pengalaman, ini masih muda, belum ngerti birokrasi padahal tidak, saya menganggap pemuda atau milenial itu adalah kompetensi dalam menghadirkan gagasan dan ide baru yang didapat, itu akan muncul sesuatu yang fres juga,” tuturnya.

Putri Ayu Anisya mengajak para seluruh teman- teman milenial untuk terjun ke partai Politik, jangan menganggap politik itu dimaknai sebagai kekuasaan, dimaknai sebagai jabatan atau hal lainnya.

Kedepan, Putri berharap Pemerintah Kota Tangsel bisa membuka wadah atau peluang bagi pemuda Tangsel untuk berorganisasi, pergerakan, berhimpun dan sebagainya. 

“Saya menganggap perlu adanya keterbukaan atau ruang-ruang diskusi perlu wadah, bukan hanya forum-forum resmi tapi seperti wadah kepemudaan, himpunan, organisasi, pergerakan yang bicara soal kehidupan sosial politik lokal terutama Kota Tangsel,” tuturnya.

Apa sih sisi buruk dari situasi politik dinasti yang sekarang terjadi?

“Sekira itu betul-betul berindikasi ke warga Tangsel kepada teman-teman milenial semua, saya sangat percaya kaum milenial menjadi garda terdepan, menjadi garda yang paling reformis untuk menolak hal itu,” pungkasnya, yang diakhiri dengan tepuk tangan peserta yang hadir. (*)

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.