#NgopiSewarung – Kota Tangerang Selatan selalu menarik. Dari sudut manapun melihat dan menulis tentang kota ini, selalu ada angel atau sisi yang layak dipublis. Alamnya yang subur dan kaya dengan sumber air, dilintasi oleh lima sungai dan memiliki banyak situ. Secara geografis juga sangat strategis. Dekat dengan Ibu Kota Negara Jakarta dan dilingkari oleh kota kota yang sudah lebih dulu berdiri Tangerang, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang, suatu kondisi yang membuat Tangsel-dalam berbagai sektor- lebih cepat berkembang dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan tersebut, sisi lain yang menarik dari Tangsel ialah hadirnya kelompok elite baru yang mulai menonjol dalam mempengaruhi dinamika kemajuan kehidupan kota.

Sejak berdiri pada tanggal 26 November 2009– berdasarkan Perda DPRD Kota Tangsel– kota yang terletak di sebelah selatan Jakarta ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orang luar yang datang dengan berbagai latarbelakang budaya untuk meramaikan kehidupan kota. Mengembangkan aneka kegiatan usaha dan gaya hidup. Saling berinteraksi dan beratraksi membentuk banyak sekali aktivitas baik secara individu maupun dalam wadah komunitas, organisasi usaha, profesi, dan hobi.

Kehadiran para pendatang — suka atau tidak – menjadi pemicu percepatan proses lahirnya para elite baru Tangsel. Yakni orang -orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok kecil yang memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan mengartikulasikan pemikiran, aspirasi lewat berbagai profes di atas rata- rata orang lain. Kelompok ini juga memiliki kemandirian secara ekonomi dan mempunyai kepedulian sosial politik yang tinggi.

Mereka boleh disebut kelompok yang berada di lapisan paling berpengaruh, atau paling mempunyai nama baik di masyarakat, karena kemampuannya menonjol di bidang tertentu, karenanya mereka adalah para pemimpin di bidangnya. Dan tentu saja keberadaan kelompok elite mempunyai peran penting dalam pembangunan kota.

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan kota– keberadaan kelompok elite Tangsel saat ini kian mengkristal dan kemampuannya dalam mengorganisasi aktivitas usaha dan sosial semakin berkembang serta mandiri. Yang semula cenderung berlindung atau tergantung kepada koorporasi dan birokrasi perlahan- lahan mulai berani tampil berhadap-hadapan dengan pemerintah. Bisa menyampaikan aspirasi politik lebih berani, bebas, leluasa, dan kritis.

Kehadiran para elite di tengah-tengah kota cukup terasa. Dalam lima tahun terakhir Tangsel menjadi kota berkembang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi paling tinggi di wilayah Banten, diiringi pencapaian prestasi di hampir semua sektor pembangunan, terlepas dari pro dan kontra soal keabsahan penghargaan yang diteima atas segala pencapaian prestasi tersebut.

Sejauh manakah keberadaan elite Tangsel memberi konstriubusi terhadap pencapaian prestasi di atas?

Setidaknya ada enam kelompok elite di Tangsel yang cukup berpengaruh.

Pertama, elite birokrasi. Kelompok ini sangat dominan dalam memainkan peran. Boleh jadi arah, bentuk, dan warna pembangunan kota selama ini adalah produk kelompok ini. Mereka menguasai hampir semua jaringan sumber kekuasaan dan permodalan hingga keberadaannya hampir- hampir untouchable, tak tersentuh. Seolah berjalan dan mempunyai cara berfikir serta selera tersendiri, bahkan memiliki hak klaim kebenaran sendiri dalam membentuk kota (termasuk klaim kebenaran atas segala prestasi yang diraih).

Dalam posisi seperti itu, segala saran, kritik, usulan yang disampaikan oleh banyak kelompok warga yang muncul di berbagai forum dan media massa, seringkali dianggap seperti angin lalu. Terkesan kekuasaan birokrasi yang dipegangnya seolah milik mereka.

Kedua, elite politik. Kelompok ini terorganisasi secara rapih dalam institusi partai politik dan di lembaga perwakilan rakyat (DPRD). Aktivitas mereka lebih banyak berafiliasi dan berkolaborasi dengan elite birokrasi hingga hubungannya dengan kelompok masyarakat dan elite lain sulit terjalin baik. Intensnya jalinan kolaborasi dengan elite birokrasi membuat para politisi partai politik dan anggota dewan merasa cukup nyaman untuk tidak berbuat maksimal menjalankan fungsinya sebgai kekuatan kontrol yang penting bagi pemerintah.

Ketiga, elite pengusaha. Tangsel adalah kota wirausaha. Begitu banyak para pengusaha kelas menengah atas bermukim di sini yang bisa disinergikan. Akan tetapi yang muncul ke permukaan adalah kelompok elite pengusaha lokal yang berafiliasi ke elite birokras. Lewat organisasi KADIN dan asosiasi mereka saling berbagi kue APBD dan APBN, hingga cenderung mandul dalam memainkan peran sebagai mitra sejajar dengan pemerintah dalam hal berbagi ide-ide dan gagasan kreatif tentang warna ekonomi dan bisnis pembangunan kota. Sebaliknya, mayoritas elite pengusaha menengah atas yang ada di wilayah cluster permukiman elite, lebih senang berafiliasi atau bermitra dengan pihak di luar Tangsel.

Keempat, elite intelektual kampus. Tangsel juga layak menjadi kota pendidikan, karena jumlah perguruan tinggi bertaraf nasional dan internasional tumbuh subur. Para intelektual berkelas tinggal di Tangsel. Sungguh potensi kekayaan sumber daya manusia yang penting bagi pembangunan. Lagi-lagi kelompok ini pun sebagian mengambil jarak dengan persoalan Tangsel. Energi dan kapasitas intelektual yang mereka miliki lebih banyak terfokus dan didistribusikan ke hal- hal lain di luar Tangsel. Mereka juga merasa asyik dengan dunia menara gadingnya di kampus-kampus ternama.

Kelima, elite budayawan dan seniman. Tangsel layak memperoleh predikat kota seniman dan budayawan, mengingat penggiat seni dan budaya kelas dunia pun banyak bermukim disini. Mereka menghasilkan banyak ragam karya film, seni rupa, seni lukis, musik, dan sastra, yang bisa pentas di panggung- panggung nasional dan internasional. Namun komunitas budayawan dan seniman yang tergabung dalam Dewa Kesenian Kota Tangsel (DKTS) justru kurang greget dan kesulitan menemukan elan vital karena seringkali terjadi disintegrasi dengan kebijakan pemerintah kota.

Keenam Elit Sosial Keagamaan. Kota ini memiliki motto “religius”. Itu tidak salah meskipun tak sepenuhnya benar. Begitu banyak masjid besar, dan tempat ibadah agama lain, majelis taklim, dan kelompok kajian agama yang ikut meramaikan kota. Namun, sikap religi yang ditampilkan kaum elite agamawan cenderung masih berupa “panggung pentas,” bertolak belakang dengan realitas sosial yang ada. Kemiskinan dan ketimpangan sosial, praktek prostitusi dan korupsi di banyak lingkungan masyarakat dan pemerintahan belum mendapat perhatian dan sentuhan kelompok ini

Begitulah potret yang ada.Polarisasi elite di atas memperlihatkan bahwa Tangsel sebenarnya kaya dengan potensi sumber daya manusia unggul. Namun, di waktu bersamaan potensi tersebut terkesan hidup sendiri- sendiri dengan cara dan jalannya masing-masing, bahkan dengan warna dan pola berfikir sendiri.

Itulah sebuah wajah kehidupan kota yang ramai, sesak, dinamis , namun belum memiliki warna dan bentuk sendiri. Ibarat sebuah lukisan yang belum jadi, padahal semua peralatan dan perangkat yang diperlukan untuk membuat sebuah lukisan indah bernilai jual tinggi sudah tersedia. Kalaupun lukisan itu sudah jadi, belum sepenuhnya memiliki jiwa.

Dengan kata lain, potensi besar sumber daya manusia unggul di Tangsel belum terintegrasi dalam satu kekuatan, semangat dan jiwa yang sama.

Keadaan itulah yang melatarbelakangi sejumlah penggiat kota pada paruh tahun 2015 terdorong mempersatukan para elit Tangsel.

Para elit yang masih berdiri sendiri dengan corak baju dan gaya masing masing serta masih tercerai berai di banyak kotak ego sektoral, disatukan ke dalam satu komunitas di antaranya melalui Tangsel Club’

Lewat group komunitas ini, para elite semacam dipaksa untuk bisa duduk bareng menyeruput kopi bersama sambil berbicara bebas-lantang tentang problema kota dan masa depannya.

Tangsel Club’ (TC) awalnya adalah sebuah group Watsup (WA), berisi para elit penggiat Tangsel dari berbagai profesi. Dalam banyak kegiatan diskusi, group ini berani membuka kotak Pandora Tangsel. Segala hal yang semula dianggap tabu untuk dibicarakan menjadi hal yang biasa bahkan bisa dibahas dengan nada bahasa lebih kritis dan keras.

Kehadiran TC bukan hanya berhasil membuka tabir kekakuan komunikasi antar elite, tetapi yang jauh lebih penting dari itu ialah bisa menginspirasi banyak penggiat untuk membentuk banyak komunitas baru. Hingga saat ini lebih dari 30 komunitas dari berbagi profesi baik yang berkiprah sebelum TC berdiri maupun setelahnya.

Lewat komunitas diskusi semua hal yang jadi isue di Tangsel tak luput dari pembahasan.

Belakangan TC menggagas dan menggelar konsep Ngopi Sewarung, sebuah forum ngobrol bareng yang dilaksanakan secara off air. Lewat media bini seolah ingin mengatakan bahwa semua hal tentang Tangsel boleh dibicarakan dan dikritisi.

Bukan hanya itu, Ngopi Sewarung juga ingin berkata bahwa perbedaan pendapat dan gesekan persaingan yang terjadi di antara elite kota dan pemangku kebijakan, hanyalah bumbu penyedap yang wajar terjadi dalam dinamika membangun Rumah Kita bersama bernama Tangerang Selatan.

Begitulah group ini menegang prinsip bahwa semua masalah bisa diselesaikan asal mau duduk ngopi bersama.
Sambil ngopi, banyak potensi konflik bisa mereda, terhempas oleh kenikmatan menyeruput cairan kopi di banyak cafe dan kedai kopi yang tersebar di sudut-sudut dan tengah kota.

Itulah sebenarnya panggung panggung peradaban baru yang sejak awal diimpikan oleh penggagas TC. Sebuah panggung dimana para elite bisa saling berdebat adu konsep, berbagi ide, gagasan. Mulai dari persoalan korupsi yang masih membayangi-warna pembangunan kota. Soal budaya politik transaksional yang kian kental. Masalah pembangunan sektor pendidikan yang masih menyisakan bau praktek suap.Juga soal permainan jual beli proyek yang dilakukan oleh para kontraktor, sampai pada nasib budayawan dan seniman yang keluhan dan idenya seringkali merasa kurang digubris dah dihargaioleh penguasa kota.

Kehadiran para elite Kota Tangsel di atas panggung publik makin menarik tatkala diantara mereka sama- sama bersaing untuk berebut memperoleh kursi dan porsi pengaruh yang lebih besar melalui jalur politik Pilkot 2020.

(Sebuah Pengantar)

Oleh ; Uten Sutendy

Get the feeling

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.