bidiktangsel.com – Kehamilan (dalam KBBI) adalah suatu keadaan saat seseorang mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa. Umumnya, kehamilan merupakan hal yang diinginkan oleh setiapmemiliki sebuah resiko. Setiap wanita hamil mempertaruhkan nyawa nya demi melahirkan buah hatinya. 

Maka dari itu tidak sedikit dari wanita mengalami kematian selama proses kehamilan sampai kelahiran.

Maternal Mortality Rate (MMR) merupa-kan indikator utama yang membedakan suatu negara digolongkan sebagai negara maju atau negara berkembang.

Indonesia termasuk negara dengan Martenal Mortality Rate (MMR) masih sangat tinggi, walaupun sudah berhasil di tekan dibawah rata-rata negara ber-kembang.

Maternal death atau kematian ibu adalah kematian yang terjadi saat kehamilan, atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan, tanpa memperhitungkan durasi dan tempat kehamilan, yang disebab kan atau diperparah oleh keha-milan atau pengelolaan kehami-lan tersebut, tetapi bukan disebab-kan oleh kecelakaan atau kebetulan (WHO, 2004).

Maternal death berbeda dengan maternal mortality ratio, atau yang lebih dikenal sebagai Angka Kematian Ibu (AKI), menurut Badan Pusat Statistik (BPS) maternal mortality ratio/AKI adalah angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup (BPS, 2012).

Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) tahun 2015 menunjukkan bahwa dari 100.000 kelahiran hidup di Indonesia, 305 di antaranya berakhir dengan kematian sang ibu (Profil Kesehatan Indonesia, 2015).

Baca Juga :  Satgas TMMD Bergotong-royong dengan Masyarakat Dalam Mengerjakan Sasaran

Hal ini sangat jauh dari target AKI Indonesia pada tahun 2015 yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya AKI merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi Indonesia sehingga menjadi salah satu komitmen prioritas nasional, yaitu meng-akhiri kematian ibu saat hamil dan melahirkan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelan-jutan/ Sustainable Development Goals (SDGs), target AKI adalah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030.

Kematian ibu akibat persalinan tidak hanya disebabkan oleh faktor kesehatan sang ibu semata seperti kekurangan gizi, anemia dan hipertensi, melainkan juga turut dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai, serta kesadaran keluarga untuk meminta bantuan tenaga keseha-tan dalam proses persalinan.

Menurut laporan dari WHO tahun 2014, kematian ibu umumnya terjadi akibat komplikasi saat, dan pasca kehamilan. Adapun jenis-jenis kompli-kasi yang menyebab-kan mayoritas kasus kematian ibu atau sekitar 75% dari total kasus kematian ibu antara lain; pendarahan, infeksi, komplikasi persalinan, aborsi yang tidak aman, dan hipertensi saat kehamilan.

Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah dari nilai normal sekurang-kurangnya bernilai 140 mmHg sistolik dan 90 mmHg diastolik pada 2 kali pemeriksaan berjarak minimal 15 menit diukur pada lengan yang sama.

Baca Juga :  Ada TMMD 105 Warung-warung di Desa Blukbuk Naik Omset

Hipertensi dapat terjadi pada siapa saja dan kondisi apa saja, termasuk saat seorang wanita dalam kondisi hamil. Ada beberapa jenis hipertensi yang terjadi pada kehamilan, salah satunya Pre-eklamsia.

Pre-eklamsia adalah kondisi hipertensi yang baru terjadi pada saat usia kehamilan minimal 20 minggu disertai dengan gangguan fungsi organ.

Diagnosis Pre-eklamsia dapat ditegak kan jika ukuran tekanan darah minimal 140/90 mmHg serta didapatkan protein pada urin melebihi 300 mg dalam 24 jam atau tes urin disptik > positif 1. Jika tidak didapatkan protein di urin, hipertensi harus diikuti oleh salah satu kondisi dibawah ini: 

– Trombositopenia : trombosit <100.000/ mikroliter

– Gangguan ginjal : kreatinin serum > 1,1 mg/ dL atau didapatkan peningkatan kadar kreatinin serum dari sebelumnya pada kondisi tidak ada kelainan ginjal lainnya

– Gangguan liver : peningkatan konsentrasi transaminase 2 kali normal dan atau adanya nyeri di daerah kanan atas abdomen- Edema paru

– Gangguan neurologis : stroke, nyeri kepala, gangguan ketajaman penglihatan

– Gangguan sirkulasi uteroplasenta Penegakan diagnosis Pre-eklamsia hanya dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan setelah dilakukan pemeriksaan menyelu-ruh dengan fasilitas yang me-madai.

Baca Juga :  Imam Musholla Mengaku Muritnya Tambah Rajin Setelah Musholla Nurul Iman Dibangun TMMD

Kejadian Pre-eklamsia harus diwaspadai. Mengapa? Karena kondisi ini bisa berkembang menjadi Eklamsia, yaitu terjadi kejang tonik klonik akibat tinggi nya tekanan darah, dan hal ini dapat membahayakan nyawa ibu dan bayi yang dikandungnya.

Faktor resiko yang dapat menye-babkan terjadinya hipertensi saat kehamilan adalah penyakit ginjal kronis, hipertensi kronis, antipos-pholipid sindrom, riwayat keluarga dengan Preeklampsia, kehamilan kembar, kehamilan pertama, usia lebih dari 40 tahun dan penyakit diabetes mellitus.

Penelitian lain menyebutkan terdapat beberapa faktor resiko lainnya yang dapat diubah seperti Obesitas, Diet yang buruk, Merokok dan Alkoholisme.

Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian ini, diantaranya rutin melakukan ANC (Ante Natal Care) dan memperbaiki pola hidup, seperti olahraga teratur, makan makanan sehat dan bergizi, tidak merokok, mengurangi konsumsi garam, dan menjaga berat badan yang ideal.


Penulis:

Nama               : Rahma Khairani Ramsi & Vina Zaynah Kholilullah

Program Studi: Kedokteran 

Fakultas : Kedokteran 

Universitas.     : Universitas Malikussaleh 

Dibawah bimbingan Ibu Rasyimah, S. S., M. ED

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.