Sport, bidiktangsel.com – Siapa yang tidak mengenal reputasi Timnas Sepakbola Jerman. Meraih tropi World Cup sampai 4 kali, bukan sesuatu yang bisa diraih dengan mudah. Dari 193 negara yang terdaftar di PBB, sejak tahun 1930 sampai tahun 2018 hanya 8 negara yang bisa meraih gelar Juara Piala Dunia. Lalu dari 8 negara itu, hanya Jerman dan Italia yang bisa menjadi Juara Dunia 4 kali.

Brasil memang peraih trophy Jules Rimet terbanyak sampai 5 kali. Tapi orang Jerman dan Brasil pasti tidak akan melupakan tragedi di Mineirao Stadium, Belo Horizante di Brazil pada Piala Dunia 2014. Ketika itu Timnas Jerman arahan Joachim Loew mengalahkan Brasil dihadapan pendukung fanatiknya sendiri dengan skor yang tidak akan pernah diduga oleh siapapun sebelumnya, 7-1 untuk Jerman.

Lalu apa yang menjadi kunci permainan Jerman?

Ada yang bilang karena Jerman dikenal sebagai tim Sepakbola yang tertib dan disiplin.

Pandangan yang tidak keliru. Karena seperti itulah timnas Jerman. Pemain Jerman tidak seperti pemain Belanda yang dituntut kreativitas untuk memenuhi skema bermain total football. Mereka adalah pemain yang dengan tertib menjalankan fungsi dan peran di masing-masing posisi sesuai arahan pelatih.

Timnas Jerman adalah mesin yang bergerak tanpa henti dengan tertib. Konon bila permainan timnas Jerman dilihat dari udara, akan terlihat gerakan mereka yang seperti robot yang tertib, disiplin dan rapi. Bila mereka menerapkan formasi 4-4-2, maka wing back kiri dan kanan betul-betul bergerak ke belakang dan depan dengan tertib dan rapi.

Johan Cruyff mungkin salah satu seniman bola terbaik yang pernah terlahir di muka bumi ini. Dialah yang menjadi nyawa permainan Belanda. Reputasinya jauh diatas Berti Vogts dari Jerman. Tapi melalui kedisiplinan seorang Berti Vogt lah Cruyff mati kutu. Tidak bisa mengembangkan permainannya dan gagal membawa Belanda menjadi Juara Dunia.

Baca Juga :  IBEC 2019 Sukses Terselenggara, Kadispora Banten Dorong Peserta Jadi Pro Player

Ada juga yang berpendapat bila Jerman adalah tim yang pantang menyerah dan petarung sampai akhir pertandingan. Seperti Mesin Diesel yang ditemukan orang Jerman, seperti itu juga timnas Sepakbola Jerman. Makin lama, permainannya makin panas bukan makin lembek. Kalah menang hanya akan ditentukan ketika peluit akhir dibunyikan. Siapapun lawan Jerman, selalu mengingatkan supaya tim tetap fokus sampai menit terakhir, meski sudah menang. Karena tim bavaria ini akan selalu merepotkan mereka sampai menit terakhir.

Namun selain disiplin, karakter mesin diesel dan karakter bertarung sampai akhir, Andreas Brehme menambahkan karakter kekuatan pikiran yang juga menjadi penentu. Menurut Brehme, pemain Jerman selalu berpikir positif setiap mau menghadapi pertandingan. Yakin bahwa sesulit apapun situasi pasti bisa diatasi dan setangguh apapun lawan yang dihadapi, pasti bisa dikalahkan.

Brehme pastinya tidak sembarang ucap dengan pendapatnya itu. Karena Bek Kiri timnas Jerman adalah anggota Timnas Jerman yang mengantarkan der panzer menjadi Juara Dunia tahun 1990. Goal tendangan pinalti Brehme adalah penentu kemenangan Jerman atas Argentina di final Piala Dunia 1990. Padahal ketika itu Brehme mesti menghadapi Sergio Goychochea yang dikenal sebagai kiper penjinak tendangan pinalti. Sementara penembak utama pinalti nya adalah Lothar Matthaeus. Digantikan Brehme karena Matthaeus bukan hanya baru berganti sepatu di pertengahan pertandingan, tapi juga merasa tidak percaya diri mengambil tendangan pinalti yang sangat menentukan itu.

Apa yang disampaikan Brehme, tidak berbeda dengan pendapat Nils Haveman, sejarawan Jerman, juga sejawatnya Kapten Timnas Jerman, Lothar Matthaeus. Mereka sepakat bahwa berpikir positif, yakin menang sudah menjadi mental dan karakter pemain Jerman.

Berpikir positif dan percaya diri inilah yang menjadi penjelas kenapa Jerman bisa menyabet Piala Dunia 1954. Padahal pada tahun ini Jerman menghadapi masalah pelik baik secara psikologis maupun tekhnis permainan.

Baca Juga :  Perayaan Satu Dekade Captiva Chevy Club (3C) Berlangsung Meriah

Secara psikologis, Jerman tahun 1954 adalah negeri yang sedang menanggung malu dan hinaan karena Perang Dunia II. Jerman bukan hanya dianggap aktor utama penyebab Perang Dunia II yang sudah membunuh jutaan orang, tapi Jerman juga negeri yang kalah perang. Jerman adalah negeri pecundang. Secara mental Jerman terhina karena kalah perang, sementara pada saat yang sama negerinya sedang membangun keruntuhan akibat perang.

Sementara secara tekhnis permainan, Jerman juga menghadapi masalah serius. Di babak final, lawannya bukan tim kaleng-kaleng. Hungaria pada tahun 1954 adalah timnas sepakbola unggulan yang ditakuti. Pada tahun itu, Hungaria adalah tim superior dihadapan Jerman.

Namun mentalitas dan berpikir positif Jerman, menghapus semua halangan itu. Kemenangan pada Final Piala Dunia 1954 bukan hanya bermodalkan percaya diri dan berpikir positif, tapi juga mengembalikan kepercayaan diri orang Jerman setelah jatuh hancur karena Perang Dunia II.

Begitu juga ketika Jerman menjuarai Piala Dunia dua puluh tahun berikutnya, 1974. Jerman memang mempunyai Franz Beckenbauer. Libero yang digelari teman-temannya sebagai sang Kaisar karena mempunyai karakter leadership yang kuat. Namun pada saat bersamaan, tim yang dihadapi adalah Belanda dengan Johan Cruyff dan Total Football nya. Belanda dengan Cruyff pada tahun 1974 sedang dalam puncak penampilan dan lebih superior dibanding Jerman. Kalau di Babak Semifinal Belanda begitu perkasa mengalahkan Brasil dengan skor meyakinkan 2-0, sementara Jerman mesti berususah payah menyingkirkan Polandia dengan skor tipis 1-0.

Namun hasil akhirnya seperti sudah diketahui. Goal Gerd Mueller menjadikan Jerman yang inferior menghancurkan Belanda yang superior. Satu-satunya kesempatan Belanda menjadi Juara Piala Dunia, dihancurkan Jerman dengan pikiran positif dan kepercayaan dirinya.

Namun ada pertanyaan mendasar berkaitan dengan berpikir positif atau percaya diri dan kesuksesan. Bila betul berpikir positif dan percaya diri berimbas kepada kesuksesan, kenapa Jerman tidak selalu menang di setiap perhelatan Piala Dunia?Sejak Piala Dunia Sepakbola digelar tahun 1930, ada 21 kali Piala Dunia sampai tahun 2018. Lalu kenapa dari 21 kali penyelenggaraan Jerman hanya menjadi juara sebanyak 4 kali saja. Tidak sampai 4% dari jumlah total penyelenggaraan. Kenapa masih kalah dibanding Brasil yang menjadi Juara 5 kali atau terbanyak. Hanya sampai itukah efek dari percaya diri?

Baca Juga :  Regita Gagarin Raih Medali Emas Skate Japan 2019

Mengenai hal ini, ada jawaban menarik dari Lothar Matthaeus dalam sebuah dokumenter berjudul “Becoming Champion” yang ditayangkan Netflix. Matthaeus adalah Libero dan Kapten Timnas Jerman yang berhasil membawa negaranya menjadi Juara Dunia pada tahun 1990. Menurut Matthaeus, berpikir positif dan percaya diri juga tidak bisa semena-mena diterapkan. Berpikir positif, harus sesuai dengan realitas yang ada. Orang tidak bisa bergantung terus menerus kepada berpikir positif ketika realitasnya memang tidak sesuai.

Karenanya meski Jerman terbiasa percaya diri dan berpikir positif, Jerman gagal beberapa Piala Dunia berikutnya. Karena timnas Jerman pada waktu itu, dianggap lemah dan tidak layak juara. Ada regenerasi pemain yang menyebabkan timnas Jerman dianggap tidak layak menjadi juara. Meskipun percaya diri dan berpikir positif sudah terinternalisasi.

Kepercayaan diri muncul kembali ketika Juergen Klinsmann dan Joachim Loew membangun timnas Jerman dari dasar. Klinsmann melihat rekrumen pemain muda menjadi sesuatu yang sangat penting dalam membangun timnas Jerman. Di tahun 2014 ketika Joachim Loew meneruskan kerja Klinsmann, berpikir positif bertautan dengan kondisi timnas Jerman yang layak juara. Tidak heran, pada tahun itulah Loew berhasil membawa Jerman menjadi Juara Dunia untuk ke empat kalinya. (*/Del)

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.