Tangerang Selatan, bidiktangsel.com- Meski sudah setahun pandemi, penularan virus covid-19 di Komplek Astek Serpong Tangsel bukannya mereda tapi justeru semakin tinggi. Korban meninggal pun mulai berjatuhan. Sementara yang OTG (Orang Tanpa Gejala) jumlahnya mencapai puluhan.

Menurut keterangan Ketua RW 05 Komplek Astek Serpong Tangsel, Zaidin, yang juga termasuk OTG, banyaknya jumlah OTG diketahui dari hasil PCR gratis, yang difasilitasi oleh Dinkes Tangsel di Pertengahan Desember 2020 lalu.
“Hampir rata-rata semua yang ikut test PCR OTG, termasuk saya,” ujar Zaidin saat dihubungi melalui jaringan telepon.

“Tanggal 20 Desember 2020, suami saya, Rudi (48), mengalami demam tinggi, dan hilang indra penciuman. Selang 2 hari, Saya pun mengalami hal yang sama, saya demam, sakit kepala, mata merah, mual, hilang indra penciuman, serta pegal pada kaki hingga pinggang. Karena kondisi kami masih tergolong baik karena masih bisa beraktivitas, dan belum adanya tanda-tanda sesak nafas, akhirnya kami memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah. Kebetulan di rumah saya hanya tinggal bertiga, saya, suami dan anak gadis saya yang berusia 20 tahun,” tutur Asri, salah seorang warga komplek Astek yang mengalami gejala Covid-19.

“Setelah kami yakin bahwa kami terkena gejala covid-19, berdasarkan beberapa petunjuk yang kami baca, kami pun mulai membeli vitamin C, Vitamin E, Susu Bear Brand, dan paracetamol.
Kegiatan pagi kami mulai dengan sarapan telur ayam rebus setengah matang, satu gelas air hangat yang sudah diberi perasan jeruk lemon dan madu. Pukul 08.00-09.00 kami melakukan kegiatan olahraga ringan sambil berjemur di halaman rumah. Tidak lupa ibadah sholat 5 waktu dan sholat sunah kami kerjakan, kami terus berdoa agar diberi kesembuhan,” kenang Asri.

“Meski lidah dan hidung tidak bisa merasakan lezatnya aroma masakan, kami tetap makan sehari 3 kali, kadang kami minta dibelikan bubur ayam agar mudah ditelan. Kami minum vitamin rutin, makan buah-buahan dan malam hari sebelum tidur kami minum susu bear brand. Setelah berlangsung selama kurang lebih 4 hari, saya mengalami buang air yang tidak normal, mencret di malam hari. Terus terang ini yang membuat saya sempat panik, dan melapor ke Ketua RW 05 untuk mendapat pemantauan,” ungkap Asri.

“Berdasarkan gejala yang saya dan suami alami, Ketua RW 05 menyarankan agar kami melakukan tes PCR. “Kalau PCR di Puskesmas hasilnya baru keluar 10 hari, baiknya PCR di RS Swasta saja dengan biaya sendiri,” ujar Asri.

Melihat harga tes PCR yang begitu mahal, saya sekeluarga memutuskan untuk melakukan tes antigen saja karena lebih terjangkau. Setelah mengantri selama 3 jam akhirnya Asri, suami dan anak pun di tes. Pukul 18.00 hasil tes diberitahukan melalui pesan email, dan Alhamdulillah hasilnya negatif. Namun, esok malamnya setelah tes, Asri mengalami batuk hebat. “Padahal saya tidak pilek. Tenggorokan rasanya sangat gatal. Karena tidak tahan akhirnya saya memutuskan untuk ke dokter. Oleh dokter saya diminta untuk kembali tes antigen. Alhamdulillah hasilnya pun negatif,” kata Asri.

Menurut Asri, Meski hasil antigen negatif, namun karena gejala sakit yang Asri dan suami alami persis gejala covid-19, mereka pun memutuskan untuk terus melakukan isolasi hingga 14 hari ke depan.

Karena banyak warganya tidak patuh dengan protokol kesehatan, membuat ketua RW 05 mengambil tindakan dengan mendirikan posko lawan covid-19. Di Posko inilah pengurus warga melakukan razia masker. Penghuni komplek dan warga lain yang melintas tidak memakai masker akan dikenai sanksi push up.

Tidak hanya merazia warga tanpa masker, pengurus warga pun rutin berkeliling untuk memantau penghuni komplek. Dengan pengeras suara, warga yang berkerumun diminta untuk membubarkan diri. Penyemprotan disinfektan pun kerap dilakukan.

“Dengan adanya Posko Lawan Covid-19 dan sosialisasi prokes yang rutin dilakukan, kami berharap tidak ada lagi korban meninggal karena covid-19 di Komplek Astek, hingga pandemi benar-benar berakhir,” tutup RW Zaidin. (**)

Facebook Comments