#Sosok – Bagi kebanyakan orang, hikayat Nabi Ibrahim dengan anaknya sudah menjadi hikayat klasik. Tentang seorang Bapak mematuhi perintah Tuhan untuk menyembelih anak kesayangan nya. Penyembelihan anak tersebut pada akhirnya tidak terjadi. Tuhan mengganti sang anak dengan seekor kambing.

Bagi penganut Agama Samawi, perbedaannya mungkin pada anaknya. Menurut penganut Yahudi, anak yang dimaksud adalah Ishak. Anak Nabi Ibrahim yang menjadi nenek moyang bangsa Yahudi. Adapun bagi orang Islam, anak yang akan disembelih itu adalah Ismail. Anak Nabi Ibrahim yang dari keturunannya terlahir bangsa Arab dan Nabi Muhammad.

Makna peristiwa tersebut menjadi berkembang bila kita tilik secara psikologis. Bukan lagi hikayat klasik tentang penyembelihan. Karena secara historis, Ismail bukan hanya anak kesayangan, tapi anak yang kelahirannya dinantikan sangat lama. Bahkan ketika Ismail lahir, Nabi Ibrahim masih harus mengeluarkan effort luar biasa untuk mempertahankan keberadaannya. Dari Mesopotamia, Irak sekarang, yang makmur, Nabi Ibrahim mesti berjalan ribuan kilo menuju tempat yang tandus tanpa penghuni. Di tempat yang sekarang bernama Makkah inilah Nabi Ibrahim meninggalkan anaknya Ismail dan Siti Hajar istrinya.

Bila dikembangkan lebih luas dari sisi teologis, maka penyembelihan akan memiliki makna yang lebih dalam. Tidak sekedar peristiwa penyembelihan anak yang diganti dengan seekor kambing. Para sufi kerap merujuk peristiwa tersebut sebagai pengingatan manusia untuk tidak menjadikan anak sebagai Tuhan baru bagi kehidupannya. Bila Tuhan adalah abadi, maka anak adalah fana. Manusia jangan sampai melupakan Tuhan yang abadi dan menggantikannya dengan Tuhan yang fana seperti anak.

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.