Ucapan Idul Adha

Serpong, bidiktangsel.com – Pembangunan wilayah kosmopolitan modern Bumi Serpong Damai berkembang begitu pesat. Hunian ekslusif, kawasan perkantoran modern, pusat perbelanjaan, pusat pendidikan nasional maupun internasional, pusat kuliner tradisional nasional maupun menu manca negara, rumah sakit, gedung pameran skala internasional, hotel-hotel berbintang dan banyak lagi bangunan lainnya.

Bumi Serpong Damai saat ini telah berubah wajah menjadi hunian eksklusif menengah ke atas. Sudah tak tampak lagi wajah lama perkampungan dengan kebun karet dan pabrik pengolahan karetnya.

Pembangunan sebuah kota yang berkeadilan adalah yang membangun gedung-gedung baru namun tanpa menggusur gedung-gedung kuno bersejarah.

Gedung kuno bersejarah semesti-nya direvitalisasi menjadi bangunan tua yang terawat indah dapat menjadi situs cagar budaya untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Baca Juga :  Kominfo Gandeng XL Axiata, "Pojok Pintar Sisternet"

Bahwa di daerah tersebut pernah terjadi perjuangan para pahlawan Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, Letnan Soetopo, Letnan Soebianto Djojohadikusumo maupun para pejuang yang tak dikenal untuk mempertahankan kedaulatan NKRI dari tangan penjajah.

Bahwa di daerah tersebut pernah menjadi pusat perkebunan karet luas milik kolonial Belanda. Sebelum akhirnya menjadi PTPN VIII Cilenggang.

Di satu sudut Bumi Serpong Damai yaitu daerah Cilenggang seberang Hotel Sahid Serpong arah jalan menuju PTPN VIII Cilenggang terdapat dua bangunan kuno saksi bisu sejarah masa lalu kolonial pernah berkuasa di daerah Serpong.

Baca Juga :  Kota Tangerang Tuan Rumah Festival Budaya dan International Folklore

Gedung tua tak berpenghuni, dalam kondisi atap rusak dan ditumbuhi aneka perdu.

Tampak satu pria setengah baya yang tinggal disebelah bangunan itu yaitu Sulaiman menyapu membersihkan halaman setiap pagi dari daun-daun maupun sampah pohon.

Ada wacana dari komunitas warga pemerhati sejarah, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya mengusulkan dua gedung kuno untuk direhab sehingga dapat dijadikan objek kunjungan wisata, ujar Sulaiman.

Sulaiman adalah salah satu putera karyawan PTPN VIII yang sedari kecil memang sudah sangat akrab dengan lingkungan sekitar.

Jika kita melihat bangunan gedung tua pasti akan timbul pertanyaan di benak. Bagaimana sejarah awal berdiri bangunan itu, siapa pemiliknya, siapa yang pernah menghuni, tahun berapa berdiri, termasuk mitos atau misterinya.

Baca Juga :  Melanggar Kode Etik ASN, Sekda Tangsel Dipanggil Bawaslu Dua Kali

Kelengkapan data itu yang perlu ditelusur sehingga melengkapi bangunan kuno jika akan dijadikan cagar budaya.

Sejarah panjang sebuah tempat tentunya menjadi bagian tidak terpisahkan dalam perjalanan tempat tersebut.

Kenangan masa lalu tentang perjalanan sebuah tempat menjadi hal yang sangat menarik untuk ditelusuri di masa kini.

Bukti fisik yang masih ada sebagai penanda bahwa dahulu pernah ada sejarah yang pernah terukir dan menjadi pembelajaran di masa kini dan akan datang.

Hampir setiap kota di Indonesia memiliki bukti fisik tersebut berupa bangunan tua dan peninggalan yang lainnya. (Lily/Red)

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.