Jakarta, bidiktangsel.com – Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, yang merebak sejak awal 2020, telah mendorong peningkatan konsumsi pemberitaan dari media arus utama di seluruh dunia.

Kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat, terutama pada awal tahun lalu, semakin mendorong warga untuk berselancar di dunia maya atau menonton televisi guna mencari informasi terbaru terkait penanganan Covid-19.

Namun distribusi informasi turut terdistorsi karena misinformasi dan disinformasi yang ikut menyebar melalui berbagai media komunikasi digital. Tren menyebarnya misinformasi dan disinformasi juga terjadi di Indonesia. Peran pers kembali diuji. Sejumlah laporan menyebutkan adanya peningkatan konsumsi publik terhadap berita dari media konvensional pada awal pandemi.

Digital News Report 2020 yang dirilis oleh Reuters Institute mengidentifikasi peningkatan konsumsi berita di beberapa platform, termasuk televisi dan portal berita, dan penurunan oplah surat kabar di berbagai penjuru dunia.

Laporan terbaru yang dirilis tahun 2021 menunjukkan kecenderungan yang sama, dan secara khusus menyebut peningkatan konsumsi berita lewat media sosial terutama di kelompok usia muda dan berpendidikan rendah.

Atas dasar pemikiran tersebut, Dewan Pers bekerjasama dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menyelenggarakan survei “Persepsi Publik Terhadap Pemberitaan tentang Pandemi Covid-19”.

Survei yang dilakukan selama periode 6 Mei – 29 Mei 2021 ini bertujuan untuk mengetahui persepsi publik terhadap pemberitaan Covid-19 di Indonesia dan bagaimana mereka merespons informasi yang mereka dapatkan. Persepsi publik tentang pemberitaan Covid-19 dapat memberi petunjuk mengenai kinerja pers di benak publik.

Apakah publik menilai pers Indonesia masih mampu menjalankan fungsi-fungsi idealnya di tengah krisis kesehatan yang melanda dunia? Bagaimana publik mengevaluasi kinerja pers dalam memberitakan Covid-19?

Survei ini juga bertujuan mencari tahu media yang menjadi rujukan utama responden dalam upaya mereka mendapatkan informasi mengenai Covid-19, untuk mengukur platform yang menjadi ‘top of mind’.

Metode survei yang digunakan adalah metode tidak acak (non-probability sampling) dari populasi responden Jakpat Mobile Responden yang tersebar di Indonesia.

Survei menjangkau 1.119 responden (margin of error < 3%) berusia 15 tahun ke atas, yang terdiri dari 624 responden laki-laki dan 495 responden perempuan, dengan distribusi 20% responden dari Sumatera, 53% dari Jawa, 7% dari Kalimantan, 12% dari Sulawesi, 5% dari Bali dan Nusa Tenggara, 2% dari Maluku, serta 1% dari Papua. (DP/Red)

0/5 (0 Reviews)
Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.