Gevira, Seorang anak balita dari sebuah kampung yang terjepit tembok mewah bangunan kota merintih kesakitan.

Di bawah genteng bocor dalam kamar berdinding triplek lusuh dan kumal, ia mengeluh “Lapar Bu!”, suaranya lirih di keheningan malam.

Air mata sang ibu meleleh tak terbendung.

Sang ayah belum juga pulang mengais sampah-sampah diantara sela-sela rumah dan istana kota bergaya Eropa.

Rintihan tangisnya terdengar seperti hembusan angin di tengah padang pasir.

Tertelan bising suara orang -orang berbelanja. Tertimbun dentuman musik dan gemerlap lampu di atas panggung pesta ulang tahun kota.

Malam menjelang pagi wajahnya bersinar meski tubuh hanya tulang berbalut kulit, tergeletak di atas ranjang lusuh rumah sakit.

“Bu, apa mereka masih berpesta ?” tanyanya pada Sang Ibu saat orang-orang turun dari panggung bergegas pulang.

“Bu, aku ingin pulang juga. Apa ada anak-anak lain bernasib seperti ku?”

Sang ibu tak mampu berkata. Air matanya kembali berderai lalu memeluk erat anak semata wayang.

“Iya nak. Mari kita pulang saja. Di sini sepi. Ibu ihlas dan akan mengantarmu benar -benar pulang nak!,” ujar sang ibu sambil mendekap tubuh anaknya.

Selamat jalan Gevira.!

(Uten S, 2017)

Facebook Comments

Redaksi

BidikTangsel.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.