Catatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei

#Artikel – Kunci peradaban adalah pendidikan. Kunci pendidikan bergantung tingkat literasi, terutama minat dan daya baca peserta didik.

Itulah sebabnya, mengapa Tuhan secara asertif mengawali wahyu-Nya dgn Iqra.! Iqra ! Jangan bermimpi membangun peradaban tanpa budaya Iqra!

Mengonfirmasi data UNESCO (2012), indeks minat baca orang Indonesia sangatlah rendah, indeksnya hanya 0,001. Artinya hanya ada satu orang dari 1.000 penduduk yg memiliki minat baca.

Dalam Worlds Most Literate Nations (2016), Indonesia hanya satu tingkat di atas Botswana, urutan 60 dari 61 negara yg disurvei.

Tentu, rendahnya minat dan daya baca berdampak pada lemahnya daya nalar masyarakat. Apa lagi di tengah gelombang dahsyatnya informasi di era digital.

Tidak mengherankan, jika yang beranak-pinak di masyarakat adalah informasi dangkal, informasi hoaks, dan validitasnya diragukan.

Karena daya nalar rendah, maka lahir entitas masyarakat yang “bersumbu pendek”, mudah terprovokasi dan emosional.

Di tengah pemanasan suhu politik, galibnya daya nalar bergerak jongkok. Kesantunan politik bergerak rendah dan masyarakat makin social distrust.

Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018 ini, disambut dengan keprihatinan yang memiriskan hati. Daya nalar di lipat-lipat di tengah libido kekuasaan para elit politik.

Rakyatpun hanya jadi penonton dramaturgi yang sarat topeng dan memuakan. Keteladanan elite menjadi hilang. (***)

Oleh :

Humas dan Media Officer

STIE Ahmad Dahlan Jakarta

694 Di Lihat 3 Dibaca
Bantu Share :