Kesbangpol Tangsel Gelar Rapat Koordinasi dan Monitoring Untuk Cegah Konflik

SERPONG – Tercatat di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) ada 400 organisasi masyarakat (ormas). Hal ini dapat menyebabkan gesekan konflik antar ormas akibat perbedaan.

Untuk menghindari hal tersebut, Badan Kesbangpol menggelar “Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi Pencegahan, Penghentian dan Pemulihan Pasca Konflik”, di Resto Sae Pisan, Serpong, Tangsel pada Rabu, 7 November 2018.

Ketua FPK Sadri, sebagai inisiator deklarasi damai sehubungan dengan situasi dan kondisi saat ini berkaitan dengan politik. Soal pilihan pada masing-masing.

Kepala Badan Kesbangpol Kota Tangsel Azhar Syamun menyampaikan alasan mengapa pihaknya mengundang perwakilan ormas, karena memang sangat penting. Ini terbilang sebagian kecil sekitar 20 ormas dari total 400 an yang tercatat belum lagi yang tidak tercatat di Kesbangpol. “Ini bagian awal untuk pembinaan ormas,” katanya.

Luas wilayah Tangsel tidak terlalu besar, hanya 147 kilometer dengan tujuh kecamatan dan 54 kelurahan namun hanya saja penduduknya cukup padat mencapai 1,4 juta jiwa. Sehingga sangat kaya dengan kemajemukan muncul dari berbagai daerah.

“Kota Tangsel dari sisi wilayah sangat kecil tapi jumlah penduduknya lebih dari 1,4 juta jiwa. Rawan terjadi konflik. Isu sara bisa terjadi potensi konflik. Tangsel sangat beragam baik dari suku, ras dan agama. Tangsel baru 10 tahun ormas mencapai 400 lebih. Tentunya ini berkaitan dengan ras asal daerah masing-masing karena pada dasarnya hanya ada dua organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan,” tambah ia.

“Kita lihat pendiri bangsa hanya ingin menyejahterakan rakyatnya. Kita yang hanya mengisi jangan sampai terbelah belah. Hanya karena idealisme akhirnya kita kadang lupa bahwa terbentuknya negara untuk mensejahterakan rakyat,” tambah ia.

Untuk itu kekayaan yang sudah dianugerahkan oleh sang pencipta Alam Semesta ini jangan dirusak tapi harus disyukuri dan dijunjung tinggi.

“Banyaknya bahasa, budaya dan perbedaan harusnya menjadi kebanggan dan kekayaan. Tidak boleh lagi terkotak-kotak. Perbedaan jangan sampai dibesar-besarkan,” tambah ia.

Kaur Bin OPS (KBO) Iptu Parman Nainggolan menyampaikan jika terjadi konflik hingga jatuh korban meninggal akan panjang. “Ada dendam. Maka tangsel jangan pecah belah tidak ada perbedaan permasalahan,” jelas ia. (Humas-Kominfo)

432 Di Lihat 9 Dibaca
Bantu Share :

Update Berita BidikTangsel