Melestarikan Budaya Dongeng Yang Sudah Mulai Hilang

SERPONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar Lomba Mendongeng Kesejarahan di Rumah Makan Sae Pisan, Serpong, Tangsel.

Menurut Kabid Kebudayaan Dindikbud Tangsel Iis Nur Asih, kegiatan tersebut diikuti oleh 50 peserta terdiri dari satu guru dan dua siswa SMP se Kota Tangsel.

“Lomba ini di bawakan secara kolaborasi oleh guru dan siswa yang menceritakan tentang sejarah-sejarah yang ada di Kota Tangsel,” kata Iis.

Diantaranya sejarah tentang Situ Gintung, sejarah Serpong, sejarah Daan Mogot dan sejarah rentang Keramat Tajug.

“Tujuannya dengan lawatan sejarah ini, anak-anak sekolah bisa mengetahui dan mengenal bahwa di Tangsel ada tempat bersejarah. Agar lebih menarik, cerita sejarah ini di ekspresikan melalui dongeng,” kata Iis.

Sementara, Kepala Dindikbud Tangsel Taryono mengatakan bahwa mendongeng kepada anak adalah hal yang sangat komunikatif, dan memudahkan anak menerima nilai-nilai positif. Mendongeng dapat membentuk karakter anak menjadi mandiri, cerdas, dan memiliki kepemimpinan yang baik.

“Dongeng sangat baik untuk menanamkan nilai-nilai positif dari budaya, agama, sosial, dan lainnya. Dengan mendongeng semua nilai itu lebih cepat masuk dan terekam dalam memori anak,” ungkapnya.

Namun, meski memiliki nilai-nilai dalam pembentukan karakter anak yang positif, budaya mendongeng saat ini sudah mulai hilang. Permainan anak yang sudah dipengaruhi budaya impor saat ini menggerus nilai-nilai positif yang bisa didapat anak dari mendongeng.

Sementara, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany menyambut baik lomba dongeng kesejarahan guru dan siswa SMP se-Kota Tangsel. Dengan kegiatan ini, Dindikbud Tangsel memberikan fasilitas untuk melestarikan budaya dongeng yang sudah mulai hilang.

“Saya menyadari bahwa anak-anak zaman sekarang sudah tidak tertarik lagi dengan sejarah. Mereka lebih tertarik dengan film kartun atau musik dari luar,”

Lomba dongeng yang dilaksanakan adalah tentang dongeng kesejarahan. Tentu saja ini akan menghidupkan kembali budaya dongeng tentang kesejarahan.

“Dengan adanya lomba dongeng kesejarahan, saya berharap, anak-anak mampu kembali mengenal dan mencintai sejarah lewat dongeng. Namun tentu saja penyampaian dongeng ini harus dilakukan sebaik mungkin, agar anak-anak tertarik dan tidak bosan untuk mendengarkannya,” bebernya.

Diharapkan acara-acara dongeng seperti ini, terus dilakukan, terus digalakkan, diperkenalkan kepada anak sejak dini sampai mereka dewasa. (Humas-Kominfo)

192 Di Lihat 1 Dibaca
Bantu Share :

Update Berita BidikTangsel