PAK SAJUM, ASA MENJAGA SEMANGAT MENJAHIT KEHIDUPAN DENGAN SEGALA KETERBATASAN

Kota Tangerang – Setelah kecelakaan kereta beberapa waktu lalu, Ia sering dihina dengan ucapan orang yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, itulah sepenggal ucapa lirih bapak Sajum (76), sambil mengingat awal mula rintisan nasibnya sejak 35 tahun silam.

Saat beliau bercerita tentang kejadian yang membuatnya kehilangan kaki kiri (dari lutut ke bawah) dan saat ini menggunakan satu tongkat kayu sebagai pijakan dalam sederhana kesehariannya.

Kini, dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, menjahit adalah pilihan dan keterampilan terbaik bagi beliau untuk menjalani kehidupannya hingga kini.

Sebelumnya bapak Sajum pernah bekerja sebagai pendayung perahu di sungai, petugas parkir jalanan, hingga menjadi pedagang asonganpun dijalaninya.

Uang hasil kerja keras ia kumpulkan sedikit demi sedikit sebagai modal belajar menjahit. Gerobak dagangan asongan dijual untuk modal membeli mesin jahit bekas untuk memulai pekerjaannya sebagai tukang jahit.

Beliaupun berada di dalam sisi gang yang sempit di Pasar Lama Tangerang, Desa Sukarasa, saat ditemui tim Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa, pada hari Sabtu (6/1-2018).

Dalam penyerahan donasi mesin jahit program disabilitas dan dekorasi kios, bersama istri yang mendampingi, Sajum menaruh banyak harapan di ruang karya yang hanya memiliki ukuran lebar 2×1 meter dengan tinggi 2,5 meter.

Mereka melayani pelanggan untuk jahit vermak ukuran, jahit resleting, atau memasang kancing.

“Alhamdulillah sekali istri saya juga bisa,” tegas beliau hingga tiga kali mengucap hal yang sama.

Dengan apa adanya adalah gaya Sajum, beliau tidak mau memaksa atau menagih bila ada pelanggan yang belum membayar ongkos jahitnya.

“Mungkin lupa atau belum ada uang, yang penting hubungan baik tetap dijaga, soal rezeki Allah sudah mengaturnya,” tuturnya.

Namun, di usianya yang tidak lagi muda, tidak menuakan rasa semangatnya untuk menikmati hidup. Kondisi fisiknya yang tidak lagi bugar, tidak melemahkan perjuangannya melanjutkan hidup.

“Saya tidak mau hidup hanya sekedar mengadahkan tangan saja. Saya bisa, saya mau kita harus bermanfaat untuk sekitar”, tutur Sajum.

Sajum langsung duduk menghampiri dan mencoba ‘bermain’ dengan rincian kecil mesin jahit baru yang tidak lagi kropos mejanya.

Tidak lama kemudian ia berusaha bangun dari tempat duduknya dan berkata, “Mohon maaf sekali, sudah hampir waktu zuhur ini (sambil menunjuk arloji tua nya), saya harus ke Masjid dulu ya,” ujarnya

Kemudian Sajum mengambil tongkat kayunya dan berjalan tertatih-tatih untuk meninggalkan kiosnya menujuh masjid. (Rls)

332 Di Lihat 1 Dibaca
Bantu Share :

Update Berita BidikTangsel