Prihatin Kondisi Kota Layak Anak, WAG Tangsel Club Bertemu Ibu Wali Kota

Ciputat – Aksi tawuran yang dilakukan sejumlah siswa SMK Sasmita Pamulang dan SMK Bhipuri Cilenggang Serpong pada Selasa (31/7/2018) lalu, menjadi perbincangan diskusi di komunitas WAG Tangsel Club (TC) dalam beberapa hari ini. Pasalnya Kota Tangsel yang menyandang predikat Kota Layak Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) beberapa hari sebelumnya menjadi sorotan.

Dengan adanya kejadian tersebut beberapa anggota WAG TC langsung membentuk Tim Kecil yang beranggota- kan 5 orang, bertemu langsung dengan Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Hj. Airin Rachmi Diany saat Coffe Morning untuk menyampaikan rasa prihatinnya, Jumat pagi (3/8-2018) di Pemkot. Kota Tangsel.

Dalam pertemuan tersebut Tim TC yang diwakili oleh Indra Kusuma , Titi Sunarti, Abdul Rahim, Rere dan Yudi menyampai- kan keprihatinan atas kejadian tawuran pelajar yang menimbulkan korban seorang siswa yang saat ini sedang dalam perawatan serius di RSCM Jakarta.

Saat ditemui awak media, Koordinator Tim, Indra Kusuma mengatakan bahwa tujuan mereka untuk silahturahmi dan menyampaikan usulan dari beberapa masalah yang saat ini menjadi perhatian masyarakat Kota Tangsel.

“Ada beberapa permasalahan yang kami sampaikan diantaranya adalah agar Bu Wali mengambil tindakan tegas untuk menyelesaikan soal pendidikan di Tangsel yang sudah masuk ketagori darurat,” katanya.

Hal lain yang terkait tawuran pelajar juga disampaikan oleh Tim Tangsel Club, masalah keprihatinan dan kesedihan yang mendalam atas kejadian tawuran yang memakan korban seorang pelajar tersebut.

“Kepada pemerintah kami berharap agar segera melakukan koordinasi dengan pihak ulama, tokoh masyarakat, pendidik, pejabat dan aparat keamanan agar duduk  bareng untuk merumuskan langkah- langkah perbaikan moral dan akhlak para pelajar dan generasi muda Kota Tangsel,” ungkapnya.

Seperti halnya tawuran pelajar yang terjadi beberapa hari yang lalu di daerah setu kota Tangerang Selatan yang melibatkan pelajar dari dua sekolahan.

Menurutnya bukan hanya pelajar yang terlibat saja yang dirugikan melainkan keluarga, pihak sekolah dan juga lingkungan sekitarnya, dan lagi-lagi mencoreng nama baik kalangan pelajar sekolah sebagai bibit-bibit generasi penerus.

“Kami meminta kepada pihak keamanan untuk segera melakukan tindakan preventif agar peristiwa tawuran serupa tidak terulang,” tuturnya.

Indra juga menjelaskan jiwa premanis-me yang tumbuh dalam diri pelajar tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab melainkan adal hal-hal yang memicu terjadinya kekerasan.

“Seperti seringnya dipertontonkan dengan tayangan-tayangan televisi yang bertema kan kekerasan, adapula disebabkan karena kekerasan dalam lingkungan keluarga sehingga merusak psikis individu anak,” pungkasnya. (IsOne)

1445 Di Lihat 12 Dibaca
Bantu Share :